Aktivitas penyaluran modal di sektor properti mencatatkan akselerasi positif pada awal kuartal II-2026. Berdasarkan data otoritas moneter, perbankan nasional berhasil mendorong pertumbuhan yang masif di sektor ini sejalan dengan tren ekspansi industri keuangan.
Dikutip dari Keuangan, Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa total pembiayaan perbankan secara keseluruhan terkerek naik 9,98% secara tahunan (yoy) pada April 2026. Angka tersebut memperlihatkan percepatan dibandingkan realisasi bulan Maret 2026 yang tertahan di level 9,49% yoy.
Perkembangan positif ini berdampak langsung pada sektor perumahan dan lahan yasan. Laporan analisis likuiditas perekonomian mencatat pembiayaan properti mampu mempertahankan posisi di level 17,5% yoy, dengan nilai total mencapai Rp 1.684,9 triliun per April 2026. Kecepatan ekspansi ini dinilai stabil jika disandingkan dengan perolehan pada bulan sebelumnya.
Pendorong utama stabilitas ini berasal dari gairah pasar sekunder dan perumahan horizontal. Segmen pemilikan rumah tinggal, apartemen, serta investasi pengembang real estate bergerak serempak di zona hijau.
Secara rinci, alokasi dana untuk pemilikan hunian (KPR dan KPA) terangkat 4,8% yoy dengan akumulasi nilai Rp 845,1 triliun. Catatan ini lebih bertenaga daripada capaian bulan lalu yang berada di angka 4,5% yoy. Pembiayaan korporasi real estate juga mendaki 13,9% yoy menjadi Rp 270,4 triliun, melewati pencapaian Maret 2026 sebesar 12,9% yoy.
Konstruksi dan Investasi Mengalami Perlambatan
Kondisi kontras justru membayangi sektor hulu pembangunan. Pembiayaan untuk sektor konstruksi terpantau mengendur dengan catatan pertumbuhan sebesar 46% yoy, mengumpulkan total dana Rp 569,4 triliun. Padahal, pada periode Maret 2026, sektor ini sempat menembus angka 47,2% yoy.
Dilihat dari pemanfaatan dana secara umum, modal kerja perbankan meroket 5,8% yoy menjadi Rp 3.608,6 triliun, melanjutkan performa bulan lalu yang sebesar 4% yoy. Namun, penyerapan modal investasi melesu ke angka 18,4% yoy dengan nilai Rp 2.624,4 triliun, turun dari bulan sebelumnya yang sempat menyentuh 20,1% yoy.
Sinergi Pertumbuhan Pembiayaan Konsumsi
Lonjakan pada sektor hunian pribadi ini berjalan beriringan dengan permintaan masyarakat di sektor konsumtif. Pembiayaan konsumsi secara akumulatif menguat 6% yoy dengan nilai Rp 2.373,7 triliun pada April 2026, bergerak naik dari rapor bulan sebelumnya yang berada di posisi 5,8% yoy.
Faktor pendorong lain di segmen retail ini adalah pembiayaan multiguna yang berhasil mengencangkan laju pertumbuhan menjadi 8,5% yoy, dengan nilai kapitalisasi mencapai Rp 1.397,8 triliun. Rapor ini merepresentasikan kenaikan tipis dari performa Maret 2026 yang sebesar 8,3% yoy.
Sebaliknya, tren penurunan masih membayangi sektor transportasi pribadi. Pembiayaan kendaraan bermotor (KKB) didapati masih terkoreksi sedalam 9% yoy dengan sisa nilai Rp 130,8 triliun pada April 2026, memperpanjang tren negatif dari bulan sebelumnya yang menyusut 8,9% yoy.