Kreator Konten Korsel Soroti Masalah Pengelolaan Sampah di Bali

Kreator Konten Korsel Soroti Masalah Pengelolaan Sampah di Bali
Foto: Ilustrasi Kreator Konten Korsel Soroti Masalah Pengelolaan Sampah di Bali.

Kreator konten asal Korea Selatan, Shindong Lee, menyoroti kendala pengelolaan sampah di Bali yang dinilai belum optimal meski dirinya telah menetap selama setahun di Pulau Dewata. Pernyataan tersebut disampaikan pada Minggu (12/04/2026) menyusul keresahannya melihat penumpukan sampah di pinggir jalan umum.

Dilansir dari Detik Travel, Shindong mengamati bahwa warga lokal sebenarnya sudah memiliki kesadaran tinggi untuk menjaga kebersihan lingkungan secara mandiri. Namun, upaya individu tersebut sering kali terhambat oleh sistem pengangkutan dan infrastruktur pengolahan sampah yang dinilai tidak konsisten.

Persoalan ini semakin mencuat setelah Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Suwung menerapkan kebijakan baru per 1 April 2026 yang tidak lagi menerima sampah organik. Langkah tersebut bertujuan mendorong pengolahan sampah dari sumbernya, sehingga TPA hanya menampung sampah anorganik dan residu.

Shindong mengaku bingung dengan proses pengangkutan di lapangan karena sampah yang telah dipilah warga sering kali dicampur kembali oleh petugas saat dimasukkan ke truk. Ia juga menyayangkan kurangnya pengurangan penggunaan barang sekali pakai yang memperparah kondisi penumpukan di tingkat rumah tangga.

"Menurut saya, warga sudah berusaha semaksimal mungkin. Tetapi kalau sistem pengangkutan sampah dan pengurangan penggunaan barang sekali pakai tidak ikut diperbaiki, masalah ini akan sulit diselesaikan," kata Shindong Lee, Kreator Konten.

Sebagai perbandingan, Shindong menjelaskan bahwa Korea Selatan menerapkan sistem yang sangat ketat dengan kewajiban memilah sampah secara mendetail, termasuk memisahkan label dan tutup botol plastik. Di Korea, warga menggunakan kantong sampah resmi berbayar sesuai daerah tempat tinggal sebagai biaya pembuangan.

Pemerintah Korea Selatan juga menyediakan mesin penukar botol plastik dan kaleng dengan poin atau uang di fasilitas umum untuk meningkatkan partisipasi publik. Sistem disiplin per wilayah ini memastikan setiap jenis sampah, termasuk furnitur besar, terkelola dengan biaya tambahan yang terukur.

Shindong menyarankan agar Pemerintah Provinsi Bali mulai menerapkan standar pengelolaan sampah yang seragam di seluruh wilayah, terutama untuk sektor hotel dan resor. Ia mengusulkan pengadaan tempat pembuangan bersama di setiap daerah agar warga dapat memilah sampah secara langsung tanpa harus menumpuknya di depan rumah.

Artikel terkait

Rekomendasi