Krakatau Osaka Steel Hentikan Operasional Mulai Juni 2026

Krakatau Osaka Steel Hentikan Operasional Mulai Juni 2026
Foto: Ilustrasi Krakatau Osaka Steel Hentikan Operasional Mulai Juni 2026.

PT Krakatau Osaka Steel (KOS) dipastikan akan menghentikan seluruh operasional bisnisnya di Indonesia mulai Juni 2026 mendatang akibat kerugian finansial yang dialami sejak tahun 2022. Keputusan penutupan raksasa industri baja ini dipicu oleh membanjirnya produk impor murah dan penurunan permintaan di sektor konstruksi nasional.

Kementerian Perindustrian mengungkapkan bahwa perusahaan patungan antara Jepang dan Indonesia tersebut tidak mampu lagi membendung tekanan hebat dari faktor global maupun domestik. Sebagaimana dilansir dari Suara pada Rabu (6/5/2026), kondisi ini menjadi sinyal negatif bagi perlindungan industri strategis di dalam negeri.

Pemerintah mengakui adanya arus impor baja yang masif, terutama dari Tiongkok, sebagai penyebab utama rontoknya daya saing produsen lokal. Harga produk luar negeri yang jauh lebih kompetitif akibat subsidi negara asal membuat posisi PT Krakatau Osaka Steel semakin terjepit di pasar sendiri.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief, memberikan tanggapan terkait nasib para karyawan yang akan terdampak oleh penghentian kegiatan operasional pabrik tersebut.

"Kami turut prihatin atas kondisi yang dihadapi para pekerja PT Krakatau Osaka Steel. Oleh sebab itu, kami mengimbau kepada perusahaan untuk memenuhi hak-hak pekerja yang terdampak," ujar Febri.

Selain masalah impor, lesunya sektor konstruksi dalam negeri turut memperparah penumpukan stok barang sementara biaya operasional terus meningkat. Kebijakan larangan terbatas serta penerapan SNI wajib yang selama ini diterapkan pemerintah dinilai belum efektif meredam gempuran produk asing.

Setelah memastikan penutupan pabrik, Kementerian Perindustrian berencana melakukan evaluasi mendalam untuk menyusun kebijakan baru bagi keberlangsungan industri baja di masa depan.

"Kami akan melakukan kajian secara komprehensif guna merumuskan strategi yang lebih efektif," pungkas Febri.

Langkah kajian komprehensif tersebut baru akan dilakukan saat ratusan pekerja kini tengah menghadapi ancaman kehilangan mata pencaharian akibat situasi industri yang memburuk.

Artikel terkait

Rekomendasi