Kota Balikpapan berhasil mencatatkan angka kemiskinan terendah di Indonesia pada tahun 2025 dengan persentase hanya sebesar 1,97 persen. Pencapaian luar biasa di Kota Minyak ini ditopang oleh lonjakan pada sektor investasi serta penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Seperti dilansir dari Media Indonesia, Wali Kota Balikpapan, Rahmad Mas'ud menegaskan bahwa capaian tersebut bukanlah akhir dari perjuangan pemerintah daerah. Sebaliknya, angka kemiskinan tahun 2025 harus menjadi pijakan kuat untuk terus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pada tahun-tahun berikutnya.
Keberhasilan menekan angka kemiskinan ini dinilai sebagai buah dari kerja keras seluruh jajaran pemerintah daerah serta dukungan dari berbagai pihak. Peran langsung masyarakat dalam mempertahankan usaha mikro juga menjadi faktor penentu runtuhnya angka kemiskinan di Kota Balikpapan.
Pemerintah setempat terus memfokuskan perhatian pada pemberdayaan UMKM dan sektor ekonomi kreatif. Melalui peran aktif Dekranasda, berbagai wilayah di Balikpapan kini disulap menjadi pusat kuliner baru, salah satunya di kawasan Jalan MT Haryono.
"Ini adalah kerja tim, bukan kerja perorangan. Mudah-mudahan kita bisa lebih baik lagi. Minimal kita jaga angkanya agar tidak naik lagi. Ini jadi prioritas," ujarnya kepada Media Indonesia, Jumat (29/5).
Berdasarkan Laporan Keterangan Pertangggung Jawaban (LKPJ) Pemerintah Kota Balikpapan, angka kemiskinan pada tahun 2025 tersebut mengalami penurunan sebesar 2,23 persen dari tahun sebelumnya. Rendahnya angka ini menjadi bukti nyata bahwa program pemerintah berjalan ke arah yang positif.
Salah satu faktor utama di balik tren positif ini adalah pertumbuhan ekonomi Balikpapan yang melonjak hingga menyentuh angka 10 persen. Pertumbuhan yang pesat ini sukses menjaga stabilitas inflasi sekaligus mempertahankan daya beli masyarakat.
"Perputaran ekonomi hidup ini menandakan bahwa secara stabilitas ekonomi kita baik," jelasnya.
Untuk mempertahankan capaian tersebut, Pemkot Balikpapan terus menggenjot sektor investasi secara berkelanjutan. Langkah para investor yang membuka peluang usaha baru sangat diapresiasi karena terbukti efektif dalam menyerap tenaga kerja lokal.
"Dengan mereka berinvestasi dan membuka peluang usaha di sini, berarti melibatkan pekerja lokal. Ini juga salah satu indikator yang menekan angka kemiskinan," tambahnya.