Sebuah studi terbaru dari APC Microbiome Ireland di University College Cork menemukan bahwa konsumsi kopi mampu memengaruhi kesehatan usus sekaligus memperbaiki suasana hati manusia melalui jalur komunikasi antara sistem pencernaan dan otak yang dikenal sebagai gut-brain axis.
Hasil penelitian yang dipublikasikan pada Kamis (7/5/2026) ini menunjukkan bahwa interaksi kopi dengan sistem pencernaan dapat mengubah aktivitas mikroba serta metabolitnya. Laporan yang dilansir dari Lifestyle ini melibatkan 62 partisipan yang terdiri dari peminum kopi rutin dan non-peminum.
Prof. John Cryan, peneliti utama dari APC Microbiome Ireland, memberikan penjelasan mengenai meningkatnya minat publik terhadap hubungan antara pencernaan dan kondisi mental. Ia menyoroti bagaimana kopi berperan dalam mekanisme komunikasi tubuh tersebut.
"Minat masyarakat terhadap kesehatan usus meningkat pesat. Hubungan antara kesehatan pencernaan dan kesehatan mental juga semakin dipahami, tetapi bagaimana kopi memengaruhi sumbu komunikasi usus dan otak masih belum sepenuhnya jelas. Temuan kami menunjukkan kopi dapat mengubah aktivitas mikroba dan metabolitnya, sehingga berpotensi mendukung kesehatan mikrobioma," ujar Prof. John Cryan, Peneliti Utama APC Microbiome Ireland.
Dalam prosedur riset, kelompok peminum kopi yang mengonsumsi 3 hingga 5 cangkir per hari diminta berhenti selama dua minggu guna memantau perubahan biologis. Setelah periode tersebut, para peserta kembali diberikan kopi berkafein dan tanpa kafein secara acak untuk mengukur respons objektif tubuh.
Cryan memaparkan adanya perbedaan signifikan pada komposisi bakteri usus antara kelompok peminum kopi dan mereka yang tidak mengonsumsi. Kehadiran bakteri tertentu dinilai memberikan proteksi lebih bagi sistem pencernaan.
"Kelompok peminum kopi menunjukkan peningkatan bakteri seperti Eggertella sp dan Cryptobacterium curtum yang diduga berperan dalam metabolisme di sistem pencernaan serta membantu melindungi tubuh dari bakteri berbahaya," jelas Prof. John Cryan, Peneliti Utama APC Microbiome Ireland.
Penelitian ini juga mencatat bahwa kopi berkafein mampu menurunkan tingkat kecemasan serta meningkatkan fokus dan kewaspadaan. Sebaliknya, kopi tanpa kafein menunjukkan keunggulan pada aspek kognitif berupa peningkatan kemampuan belajar dan daya ingat peserta.
Menurut analisis tim peneliti, kandungan polifenol dalam kopi kemungkinan besar memicu efek positif tersebut. Cryan menekankan bahwa kopi memiliki mekanisme kerja yang luas mencakup metabolisme dan kesehatan mental secara menyeluruh.
"Temuan ini menunjukkan bahwa kopi memiliki efek yang kompleks dan tidak hanya bergantung pada kafein, tetapi juga pada interaksi dengan mikrobioma usus yang berperan dalam metabolisme tubuh serta kesehatan mental. Dengan hasil ini, kopi berpotensi menjadi bagian dari pola makan sehat yang mendukung keseimbangan pencernaan dan kondisi emosional jika dikonsumsi dalam jumlah yang tepat," tegas Prof. John Cryan, Peneliti Utama APC Microbiome Ireland.