Konsumsi Pemerintah Kuartal I/2026 Cetak Rekor Tertinggi 21,81 Persen

Konsumsi Pemerintah Kuartal I/2026 Cetak Rekor Tertinggi 21,81 Persen
Foto: Ilustrasi Konsumsi Pemerintah Kuartal I/2026 Cetak Rekor Tertinggi 21,81 Persen.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) dari sisi konsumsi pemerintah mencapai 21,81 persen secara tahunan (YoY) pada kuartal I/2026. Angka tersebut menjadi pertumbuhan tertinggi dibandingkan komponen pengeluaran lainnya seperti investasi dan konsumsi rumah tangga pada Selasa (5/5/2026).

Lonjakan signifikan pada pos belanja negara ini dilansir dari Ekonomi dipicu oleh realisasi belanja pegawai untuk pembayaran gaji ke-14 atau THR. Selain itu, pengangkatan ASN baru serta peningkatan belanja barang dan jasa turut mendorong angka pertumbuhan tersebut ke level tertinggi.

Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan bahwa capaian pada tiga bulan pertama tahun 2026 ini merupakan rekor baru dalam sejarah pencatatan statistik nasional.

"Secara triwulanan, pertumbuhan komponen pengeluaran konsumsi pemerintah pada triwulan I/2026 itu 21,81% adalah yang tertinggi sejak perhitungan PDB dengan tahun dasar 2010," terang Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti pada konferensi pers di kantor BPS, Jakarta, Selasa (5/5/2026).

Data historis menunjukkan bahwa pertumbuhan konsumsi pemerintah sebelumnya pernah mencapai 20,45 persen pada kuartal I/2024. Namun, sektor ini sempat mengalami kontraksi sebesar 1,22 persen akibat adanya kebijakan efisiensi belanja pemerintah pusat dan transfer ke daerah (TKD).

"Kalau kami lihat sepanjang lima tahun terakhir ini, memang pertumbuhan konsumsi pemerintah kuartal ini masih yang tertinggi," ujar mantan Deputi Kementerian PPN/Bappenas ini.

Pada periode yang sama, konsumsi rumah tangga mengalami kenaikan sebesar 5,52 persen yang merupakan angka tertinggi sejak periode 2023 hingga 2025. Sektor investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) juga tumbuh 5,96 persen, mencatatkan pertumbuhan kuartal I tertinggi sejak 2023.

Meskipun konsumsi domestik menguat, sektor eksternal menunjukkan performa yang kontras dengan pertumbuhan ekspor yang hanya mencapai 0,90 persen. Di sisi lain, angka impor melonjak lebih tinggi hingga 7,18 persen selama kuartal pertama tahun ini.

"Ekspor barang dan jasa ini terendah sejak kuartal III/2023 karena di kuartal III/2023 itu bahkan ekspornya sempat terkontraksi minus 3,52%." pungkasnya.

Artikel terkait

Rekomendasi