Upaya konservasi di lereng Gunung Merapi kini melampaui sekadar menjaga aliran sungai. Langkah ini bertransformasi menjadi motor penggerak ekonomi baru yang menyuburkan sawah hingga menghidupkan sektor wisata.
Dilansir dari Money, kesadaran warga bermula dari keinginan untuk mengelola air hujan agar tidak langsung mengalir habis ke sungai. Inisiatif ini muncul guna mengatasi ancaman longsor dan kelangkaan air saat kemarau.
Di Desa Mriyan, Kabupaten Boyolali, pola pertanian hortikultura lama yang memicu erosi mulai ditinggalkan. Masyarakat kini menerapkan metode teknis untuk menahan air agar meresap lebih optimal ke dalam tanah.
ÔÇ£Tapi sekarang kami membuat air tidak langsung meresap dulu ke tanah,ÔÇØ ujar Painu, seorang petani setempat pada Selasa (5/5/2026).
Metode yang diterapkan meliputi penanaman mengikuti kontur lahan, pembuatan terasering, hingga pembangunan rorak atau lubang penahan air. Teknik ini terbukti menstabilkan kondisi tanah dan menjaga cadangan air tanah tetap tersedia.
Selain perbaikan lingkungan, kompromi ekonomi dilakukan dengan menanam komoditas baru. Petani yang sebelumnya hanya mengandalkan mawar dan tembakau, kini mulai membudidayakan kopi sebagai sumber pendapatan tambahan.
ÔÇ£Dulu pendapatan utama hanya dari menanam mawar dan tembakau, sekarang ada tambahan dari menanam kopi,ÔÇØ kata Painu sembari mengajak menikmati seduhan kopi Gumuk Merapi.
Petani juga memperoleh insentif berupa pembayaran jasa lingkungan dari perusahaan hilir yang memanfaatkan air. Semakin baik pengelolaan lahan dan jumlah pohon, semakin besar manfaat ekonomi yang diterima warga.
Di wilayah hilir, tepatnya Desa Karanglo, Klaten, praktik pertanian regeneratif mulai diterapkan. Lilik Sri Haryanto, penggerak metode ini, menjelaskan bahwa tanah yang sehat berfungsi layaknya spons yang menyimpan air.
Sistem pengairan selang-seling di Karanglo berhasil menghemat penggunaan air hingga 40 persen. Langkah ini sekaligus mengakhiri konflik perebutan air antarpetani yang sering terjadi sebelumnya.
ÔÇ£Sekarang sudah tidak ada lagi berantem antarpetani karena pembagian air lebih jelas,ÔÇØ ujarnya.
Para petani juga mulai beralih menggunakan pupuk organik buatan sendiri dari bahan alami untuk menjaga mikroorganisme tanah. Hasilnya, kualitas beras menjadi lebih pulen dan minim residu kimia berbahaya.
Pemanfaatan air yang terjaga dari hulu turut menciptakan peluang ekonomi di sektor pariwisata. Kawasan Kali Pusur yang dulunya kotor kini berubah menjadi destinasi wisata alam New Rivermoon.
ÔÇ£Dulu orang takut ke sungai. Setelah dibersihkan, masyarakat mulai kembali datang,ÔÇØ ujar Managing Director New Rivermoon, Prakosa, pada Senin (4/5/2026).
Bisnis yang dirintis sejak 2017 ini sempat terdampak pandemi, namun berhasil bertahan dengan memberdayakan masyarakat lokal. Saat ini, seluruh pemandu sungai dan mayoritas pekerja merupakan warga sekitar desa.
Pengelola menerapkan prinsip zero waste dan pengolahan limbah cair menggunakan IPAL komunal. Lingkungan yang bersih menjadi fondasi utama untuk menarik wisatawan dan menghidupkan ekonomi desa.
Dikutip dari Money, PT Tirta Investama melalui brand Aqua turut mendukung skema konservasi ini. Pendekatan dilakukan dengan melibatkan Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) dan program pertanian regeneratif.
ÔÇ£Bagi Aqua, menjaga air berarti menjaga kehidupan ekonomi masyarakat di sekitarnya,ÔÇØ kata Sustainable Development and Public Affairs Aqua, Jefri Ricardo.
Kolaborasi ini memastikan ketersediaan air tetap terjaga sehingga sektor pertanian dan wisata dapat terus berkelanjutan bagi masa depan ekonomi masyarakat.