Konflik yang berlangsung di Iran memperbesar risiko bagi produsen otomotif dan pemilik kendaraan akibat gangguan pasokan energi berkepanjangan. Krisis ini diprediksi akan mengubah peta industri kendaraan global secara drastis, seperti dilansir dari Media Indonesia.
Laporan dari Senior Global Autos Analyst HSBC Michael Tyndall dan Global Autos Analyst HSBC Alice Martin menyatakan bahwa kelangkaan bahan bakar berpotensi memicu lonjakan penjualan kendaraan listrik (EV) baru maupun bekas.
Dampak nyata pada sektor energi terlihat dari kenaikan harga bensin antara 15% hingga 28% sejak awal tahun di Inggris, sedangkan di Amerika Serikat lonjakannya mencapai 60%.
Data AAA menunjukkan rata-rata nasional untuk bensin reguler di Amerika Serikat menyentuh angka US$4,51 per galon, sementara harga diesel melampaui US$5,60 per galon.
Kondisi ini memicu minat konsumen pada kendaraan ramah lingkungan, terbukti dari Toyota North America yang mencatat kenaikan penjualan kendaraan listrik sebesar 11,2% secara tahunan.
Permintaan mobil hybrid Toyota kini meluas di seluruh wilayah Amerika Serikat dan tidak lagi terbatas pada wilayah pesisir saja.
Di Eropa, volume penjualan EV naik 39% hingga akhir April 2026 di pasar-pasar utama, dengan ketersediaan sekitar 400 hingga 500 tipe kendaraan listrik baterai.
Meskipun minat meningkat, Michael Tyndall mencatat transisi tidak terjadi instan karena waktu tunggu yang panjang dan kompleksitas jaringan pemasok di Eropa.
Di sisi lain, pasar mobil listrik bekas di Amerika Serikat dan Inggris menguat melalui model seperti Tesla Model Y, Model 3, Nissan Leaf, dan Rivian R1S.
Konsumen masih menghadapi tantangan berupa harga jual kendaraan yang tinggi, infrastruktur pengisian daya yang belum merata, serta nilai residu kendaraan yang lemah.
Pemilik kendaraan konvensional juga terancam menghadapi kelangkaan Group III base oils, yaitu pelumas sintetis untuk kendaraan modern, akibat perang.
Ketidakseimbangan permintaan dan pasokan global ini diprediksi membuat biaya perawatan rutin seperti ganti oli melonjak tajam.
Situasi memanas di Selat Hormuz menjadi faktor kunci yang dipantau ketat, karena penutupan jalur tersebut dapat mendorong harga minyak mentah global ke level ekstrem.
Perkembangan Pasar Global dan Domestik
Di tempat lain, harga minyak mentah Brent melonjak ke US$110,87 per barel pada 13 Mei 2026 yang turut memicu inflasi global.
Kenaikan harga bahan bakar akibat konflik ini juga mempercepat adopsi EV di Tiongkok, dengan penetrasi pasar mencapai rekor 62,8% pada April 2026.
Di dalam negeri, Bank Mandiri merevisi proyeksi inflasi Indonesia pada akhir 2026 menjadi 3,5% menyusul kenaikan harga BBM nonsubsidi dan LPG.
Kondisi pasar yang bergejolak ini berkaitan dengan fenomena Rocket and Feathers, yang menjelaskan mengapa harga bensin naik secepat roket namun turun selambat bulu.
Para ahli memprediksi harga bahan bakar sulit kembali ke level normal sebelum tahun 2027 meskipun kesepakatan damai nantinya tercapai.
Untuk memperkuat daya saing, Nissan kini mempertimbangkan ekspor EV murah hasil kerja sama dengan Dongfeng ke Kanada dan Amerika Latin.
Sementara itu, PT PLN (Persero) meluncurkan Gelegar PLN Mobile 2026 untuk mendorong penggunaan energi bersih dengan membagikan mobil listrik lewat penukaran poin.
Langkah percepatan adopsi kendaraan listrik juga digerakkan oleh Indomobil Group melalui gelaran Indomobil Expo di Jogja yang menghadirkan berbagai brand global.