Di saat banyak orang memilih menikmati masa pensiun dengan beristirahat dan bersantai, langkah berbeda justru diambil oleh Ratidjo Hardjo Suwarno. Pada usia yang tak lagi muda, ia yang awalnya petani jamur memilih memulai usaha rumah makan bernama Jejamuran di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Ratidjo lahir pada 16 April 1944. Pengalaman hidupnya terbilang panjang, mulai dari menjabat sebagai kepala produksi di PT Magoredjo, kepala perkebunan PT Kebun Parompong, hingga memimpin PT Tuwuhagung. Namun, alih-alih pensiun dengan nyaman, ia justru memulai perjalanan baru pada 2006 saat usianya menginjak 62 tahun. Ratidjo memilih jalur yang tidak biasa, berjualan makanan berbahan dasar jamur, yang saat itu masih dianggap asing dan bahkan menimbulkan kekhawatiran di masyarakat.
Perjalanan awalnya pun tidak mudah. Ratidjo memasarkan produknya dari rumah ke rumah, meninggalkan status dan jabatan yang pernah dirinya sandang. Ia menanggalkan gengsi demi memperkenalkan usahanya.
"Saya jual pertama tidak ada yang mau beli, takut keracunan, takut mati. Akhirnya saya keliling rumah ke rumah. Mantan pimpinan perusahaan, dari rumah ke rumah, tidak semua orang bisa seperti saya. Saya tidak pernah sakit hati, saya tidak punya ego," kata Ratidjo, Pemilik Jejamuran.
Selama hampir tiga tahun, ia bersama sang istri terus menawarkan olahan jamur sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat. Berbagai penolakan dan komentar negatif tidak membuatnya mundur.
"Jual rumah ke rumah, tujuannya edukasi. Kita jelaskan jamur sehat, tidak beracun. Hampir 3 tahun sosialisas dengan masyarakat makan jamur," ujar Ratidjo, Pemilik Jejamuran.
Kesabaran menjadi kunci utama bagi Ratidjo saat menghadapi keraguan publik yang mendalam terhadap keamanan mengonsumsi jamur.
"Ada omongan tidak enak, menyakitkan, itu tidak mudah. Apalagi yang pernah makan jamur kemudian alergi. Karena itu diperlukan kesabaran yang luar biasa. Tapi setelah itu saya ketemu ibu-ibu arisan, saya masuk sekolah ketemu guru, datang ke kantor kelurahan hingga kabupaten. Itu memulai awalnya seperti itu," tutur Ratidjo, Pemilik Jejamuran.
Perlahan, usahanya mulai menemukan jalan. Ratidjo kemudian membuka warung yang tidak hanya menyajikan makanan, tetapi juga pengalaman dan edukasi jamur bagi pengunjung.
"Saya bikin warung. Tamu saya ajak ke kebun, saya cerita. itu mulut ke mulut, akhirnya banyak datang ke Jejamuraan," ungkap Ratidjo, Pemilik Jejamuran.
Tantangan Modal dan Dukungan Perbankan
Seiring meningkatnya minat pengunjung, Ratidjo Hardjosuwarno mulai mengembangkan usahanya. Namun, keterbatasan modal menjadi tantangan besar. Saat itu, ia bahkan hanya memiliki Rp200.000 untuk menambah meja dan kursi bagi tamu. Upayanya mencari tambahan modal ke sejumlah bank sempat menemui jalan buntu karena usahanya dinilai berisiko tinggi.
"Persiapannya belum bisa, saya punya dana 200 ribu, beli meja kursi untuk melengkapi. Kemudian, baru dibantu BRI tahun 2006 sebesar 25 juta," kata Ratidjo, Pemilik Jejamuran.
Kepercayaan yang diberikan oleh perbankan menjadi titik balik penting dalam skala bisnis Jejamuran yang mulai merangkak naik.
"Awalnya tidak ada bank yang menawarkan, waktu jualan itu saya dianggap belum layak. Risiko tinggi. Teman-teman dari bank itu tidak ada yang merespons. Saya kemudian datang ke BRI, dipercaya waktu itu, saya pun yakin bisa mengembalikan. Saya dapat pinjaman 25 juta, saya pakai membangun bangunan ini, sarana pakai alat rumah sendiri," ujar Ratidjo, Pemilik Jejamuran.
Bagi Ratidjo, integritas adalah segalanya dalam menjalankan bisnis yang melibatkan dukungan lembaga keuangan.
"Saya kalau tidak penting, saya tidak pinjam. Kerja dengan bank itu, bisnis kepercayaan, akhirnya sekarang semua bank nawari saya," imbuh Ratidjo, Pemilik Jejamuran.
Menembus Tembok Istana Negara
Kerja keras Ratidjo membuahkan hasil manis dengan berbagai pengakuan prestisius. Pada 2009, ia meraih penghargaan UKM terbaik DIY dari Hamengkubuwono X. Di tahun yang sama, ia mendapat undangan ke Istana Negara pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Penghargaan itu kembali terulang pada 2014, ketika ia kembali dipanggil ke Istana pada era Joko Widodo.
"Jejamuran akhirnya berkembang, Bondan almarhum itu membantu. Saya tetap membina petani, 2009 penghargaan UKM terbaik DIY dari sultan HB X," ujar Ratidjo, Pemilik Jejamuran.
Restoran yang terletak di Sleman ini pun bertransformasi menjadi magnet bagi para pesohor dan pejabat tinggi negara yang penasaran dengan kelezatan olahan jamurnya.
"Kemudian tahun 2009 dipanggil Istana, setelah itu 2014 ke Istana lagi. Akhirnya para pejabat datang, seperti bapak Jusuf Kalla, Budiono, Try Sutrisno. Jadi tiga wakil presiden sudah ke Jejamuran," tutup Ratidjo, Pemilik Jejamuran.
Hingga saat ini, Jejamuran tetap tegak berdiri sebagai bukti bahwa keberanian memulai di usia senja dan ketekunan mengedukasi pasar dapat membuahkan hasil yang luar biasa. Hubungan baik dengan mitra perbankan juga terus terjaga sebagai bagian dari sejarah pertumbuhan bisnisnya.