Peringatan Hari Kartini setiap 21 April sering kali fokus pada perjuangan emansipasi perempuan. Namun, sisi religius sang pahlawan nasional ini memiliki kedalaman sejarah yang luar biasa, terutama hubungannya dengan ulama besar asal Semarang, KH Sholeh Darat.
Dikutip dari Cahaya, pertemuan antara Raden Ajeng Kartini dan KH Sholeh Darat menjadi titik balik penting dalam sejarah literatur Islam di Nusantara. Kedekatan intelektual keduanya memicu lahirnya tafsir Al Quran berbahasa Jawa yang pertama kali ditulis.
KH Sholeh Darat atau Muhammad Shalih ibn Umar as-Samarani lahir di Mayong, Jepara. Nama 'Darat' merujuk pada kawasan pantai utara Semarang, tempat berlabuhnya pendatang dari luar Jawa yang kemudian menjadi lokasi tempat tinggal dan dakwah sang kiai.
Latar belakang KH Sholeh Darat sangat kental dengan perjuangan. Ayahnya, KH Umar, merupakan salah satu pejuang yang bergabung dengan pasukan Pangeran Diponegoro. Sejak kecil, Sholeh Darat telah menimba ilmu dari berbagai ulama besar di Jawa.
Perjalanan intelektualnya berlanjut hingga ke Makkah untuk memperdalam agama sekaligus menunaikan ibadah haji. Di Tanah Suci, ia belajar bersama tokoh besar seperti Syekh Nawawi al Bantani dari Banten dan KH Cholil Bangkalan.
Sepulangnya ke Semarang, ia mendirikan pesantren di kawasan pesisir Darat. Dari tempat inilah lahir murid-murid yang kelak menjadi tokoh besar Indonesia, termasuk pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim AsyÔÇÖari dan pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan.
Dorongan Kartini untuk Terjemahan Al Quran
Hubungan antara Kartini dan KH Sholeh Darat bermula dari sikap kritis sang bangsawan Jepara tersebut. Kartini merasa gelisah karena selama ini hanya membaca Al Quran tanpa memahami maknanya karena kendala bahasa.
Kisah ini terekam saat Kartini mengikuti pengajian KH Sholeh Darat di Pendopo Kesultanan Demak. Kepada sang kiai, Kartini mengungkapkan rasa syukurnya atas penjelasan ayat suci yang disampaikan dalam bahasa yang dimengertinya.
"Saya merasa perlu menyampaikan rasa terimakasih kepada romo kyai dan bersyukur yang sebesa-besarnya kepada Allah yang menerjemahkan surat al-fatihah ke dalam Bahasa Jawa sehingga mudah dipahami," kata Kartini.
Kartini mengaku sebelumnya tidak mengerti sedikit pun makna dari Surat Al Fatihah. Namun, penjelasan KH Sholeh Darat dalam Bahasa Jawa membuat maknanya menjadi terang benderang bagi dirinya.
Mahakarya Faid ar-Rahman sebagai Hadiah Pernikahan
Gagasan Kartini tersebut kemudian diwujudkan oleh KH Sholeh Darat melalui penulisan kitab tafsir Faid ar-Rahman. Kitab ini menggunakan bahasa Jawa dengan aksara Arab Pegon agar mudah dipelajari oleh masyarakat awam saat itu.
Kitab Faid ar-Rahman kemudian menjadi hadiah pernikahan dari KH Sholeh Darat untuk Kartini saat ia dipersunting oleh Bupati Rembang, R.M Joyodiningrat. Karya ini dianggap sebagai tonggak penting penyebaran Islam di Jawa.
Selain Faid ar-Rahman, KH Sholeh Darat meninggalkan banyak warisan intelektual lainnya. Beberapa di antaranya adalah kitab MajmuÔÇÖah asy-Syariah al Kafiyah li al-Awwam tentang syariat, serta terjemahan Kitab al-Hikam karya Ibnu Athaillah.