Kisah Mudik Menembus Waktu Bersama Land Rover Tua Bernama Tohaga

Kisah Mudik Menembus Waktu Bersama Land Rover Tua Bernama Tohaga
Foto: Ilustrasi Kisah Mudik Menembus Waktu Bersama Land Rover Tua Bernama Tohaga.

Perjalanan mudik menggunakan kendaraan lama sering kali menyimpan kenangan yang sangat mendalam dan sulit dilupakan sepanjang hidup.

Pengalaman mudik yang dilansir dari Katanetizen membagi cerita ini dalam dua fase penting, yaitu saat masih lajang pada 2005ÔÇô2008 dari Banda Aceh ke Bandung, dan saat sudah berkeluarga pada 2010ÔÇô2016 dari Depok ke Bandung.

Kenangan yang paling melekat justru lahir pada periode kedua, ketika sebuah mobil Land Rover tua yang dinamai Tohaga setia menemani perjalanan keluarga tersebut.

Bagi pemiliknya, Tohaga bukan sekadar alat transportasi biasa melainkan sudah dianggap sebagai bagian dari anggota keluarga mereka sendiri.

Kendaraan kokoh ini memiliki usia yang hanya terpaut satu tahun lebih muda dari sang pemilik dan selalu hadir dalam momen penting pertumbuhan anak-anak sejak lahir.

Tetangga di lingkungan tempat tinggal mereka yang mayoritas warga Betawi di Depok bahkan sering mengira nama Tohaga adalah nama anak atau kerabat.

Dari total enam kali melakukan perjalanan mudik, keluarga ini hampir selalu memilih waktu keberangkatan tiga hari sebelum Idul Fitri tiba.

Perjalanan biasanya dimulai pada sore hari sekitar pukul 16.00 setelah ibadah salat Ashar selesai dilaksanakan.

Waktu sore sengaja dipilih untuk menghindari terik matahari karena bodi aluminium mobil tua ini sangat cepat menyerap panas bumi.

Keunikan Berkendara Tanpa AC

Mobil klasik ini tidak dilengkapi dengan fasilitas pendingin udara modern melainkan hanya mengandalkan sistem ventilasi alami dari jendela kecil di bawah kaca depan.

Ketika cuaca berubah menjadi hujan, air terkadang merembes masuk ke dalam kabin sehingga menghadirkan sensasi unik tersendiri bagi para penumpang.

Model Land Rover seri lawas ini pada awalnya memang diproduksi untuk keperluan militer era Perang Dunia II sebelum akhirnya dialihfungsikan menjadi kendaraan massal.

Rute mudik yang biasa dilewati dimulai dari jalanan kecil Cijantung, melintasi kawasan kompleks militer, hingga masuk melalui gerbang tol Pasar Rebo menuju Cikampek dan Cipularang.

Saat melewati area militer, para prajurit yang berjaga sering memberikan hormat karena mengira kendaraan gagah tersebut membawa seorang pejabat tinggi.

Menghadapi Kendala di Jalan Tol

Nama Tohaga memiliki arti tinggi, besar, dan kuat, namun mobil tua ini tetap tidak luput dari kendala teknis saat menempuh jalur bebas hambatan.

Mesin mobil pernah mendadak mati total setelah melewati gerbang tol Cikarang Utama hingga memicu antrean panjang kendaraan di belakangnya.

Petugas tol bahkan harus mengerahkan delapan orang personel untuk mendorong mobil berbobot berat tersebut ke tepi jalan.

Masalah tersebut rupanya dipicu oleh komponen koil yang terlalu panas, yang kemudian diatasi secara sederhana menggunakan kompres kain basah.

Setelah beristirahat selama kurang lebih 30 menit, mesin mobil kembali menyala dengan halus dan siap melanjutkan perjalanan menuju kota tujuan.

Daya Tarik di Tempat Istirahat

Titik pemberhentian favorit yang selalu dikunjungi oleh keluarga ini berada di rest area KM 88 Tol Cipularang yang suasananya cenderung teduh.

Selama masa istirahat, kap mesin sengaja dibuka lebar agar proses penurunan suhu mesin bisa berlangsung dengan lebih cepat.

Kehadiran mobil klasik ini sering menarik perhatian pengunjung lain di tempat parkir yang menjadikannya sebagai objek foto bersama.

Ketika tiba di Bandung, kendaraan ini langsung menjadi pusat perhatian keluarga besar yang gemar menggunakannya untuk berkeliling kota.

Hingga saat ini, kehadiran Tohaga selalu dinantikan dan menjadi simbol kebersamaan yang terus hidup dalam ingatan kolektif keluarga tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi