Kinerja Singtel Tumbuh Positif di Tengah Kekhawatiran Dampak Stagflasi Global

Kinerja Singtel Tumbuh Positif di Tengah Kekhawatiran Dampak Stagflasi Global
Foto: Ilustrasi Kinerja Singtel Tumbuh Positif di Tengah Kekhawatiran Dampak Stagflasi Global.

Singtel melaporkan pertumbuhan performa keuangan yang positif pada tahun buku yang berakhir Maret 2026. Berdasarkan informasi yang dikutip dari Internasional via Reuters pada Kamis (21/5/2026), perusahaan telekomunikasi ini membukukan laba bersih inti sebesar S$ 2,77 miliar.

Realisasi laba bersih inti tersebut mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan perolehan tahun sebelumnya yang mencapai S$ 2,47 miliar. Walakin, pencapaian tersebut tercatat sedikit berada di bawah estimasi konsensus Visible Alpha yang memproeksikan angka S$ 2,82 miliar.

Manajemen menyatakan tidak mempunyai operasi langsung di kawasan Timur Tengah. Namun, sebagian besar pasar utama perusahaan berada di negara-negara pengimpor energi bersih yang rentan terhadap fluktuasi harga energi global.

Situasi tersebut berpotensi menaikkan biaya operasional, menekan belanja konsumen serta bisnis, dan memperlambat laju pertumbuhan ekonomi. Menghadapi ketidakpastian ini, manajemen menerapkan pendekatan yang lebih hati-hati terhadap prospek jangka pendek.

Grup memproeksikan pertumbuhan earnings before interest and taxes (EBIT) hanya berada pada rentang low hingga mid single digit. Sepanjang tahun buku 2026, EBIT perusahaan naik hampir 9% menjadi S$ 1,50 miliar atau berkisar US$ 1,17 miliar.

Chief Executive Officer Grup Singtel Yuen Kuan Moon mengutarakan bahwa korporasi terus mengamati perkembangan situasi geopolitik global secara berkala.

"Kami terus mengawasi perkembangan situasi untuk melihat potensi dampak lanjutan terhadap stagflasi serta pelemahan sentimen konsumen dan bisnis," ujarnya.

Guna meminimalkan risiko kenaikan harga energi, perusahaan memanfaatkan kontrak listrik jangka panjang yang saat ini sudah dimiliki. Di sisi lain, manajemen mengingatkan bahwa fluktuasi nilai tukar di pasar regional tetap berpotensi menekan pendapatan setelah proses konversi mata uang.

Pertumbuhan grup sepanjang tahun buku 2026 ditopang oleh kontribusi laba setelah pajak dari entitas asosiasi regional yang naik 11% menjadi S$ 1,96 miliar. Kontributor utama kenaikan ini berasal dari Bharti Airtel di India dan Advanced Info Service (AIS) di Thailand.

Sementara itu, unit bisnis mereka di Australia, Optus, mencatat pertumbuhan pendapatan operasional sebesar 2%. Seiring capaian ini, perusahaan mengumumkan pembagian dividen final sebesar 10,3 sen Singapura per saham, naik dari 10 sen Singapura pada tahun lalu.

Untuk rencana kerja tahun 2027, korporasi mengalokasikan belanja modal sekitar S$ 3 miliar. Dari anggaran tersebut, sekitar S$ 1,2 miliar disiapkan khusus untuk membiayai pengembangan pusat data serta pemenuhan kebutuhan terkait kecerdasan buatan atau artificial intelligence.

Artikel terkait

Rekomendasi