Saham ISAT Terus Menguat Berkat Ekspansi Jaringan dan Efisiensi

Saham ISAT Terus Menguat Berkat Ekspansi Jaringan dan Efisiensi
Foto: Ilustrasi Saham ISAT Terus Menguat Berkat Ekspansi Jaringan dan Efisiensi.

PT Indosat Tbk (ISAT) mencatatkan tren penguatan harga saham yang konsisten di tengah tekanan pasar modal Indonesia hingga April 2026 berkat proyeksi pertumbuhan bisnis data dan efisiensi biaya yang berkelanjutan. Dilansir dari Stocksetup, harga saham emiten telekomunikasi ini ditutup pada level 2.170 pada perdagangan Rabu, 8 April 2026.

Kenaikan harga tersebut merepresentasikan pertumbuhan sebesar 4,33 persen atau 90 poin dibandingkan hari sebelumnya. Jika dihitung selama satu bulan terakhir, nilai saham ISAT telah merangkak naik sebanyak 170 poin atau setara dengan 8,50 persen.

Kenaikan ini didorong oleh realisasi belanja modal (capex) tahun 2025 yang mencapai Rp 13,28 triliun, atau melonjak 33,73 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Manajemen mengungkapkan bahwa mayoritas anggaran tersebut, yakni sebesar 78,6 persen, dialokasikan untuk memperkuat bisnis seluler.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai suntikan modal besar pada tahun lalu kini mulai membuahkan hasil pada kualitas layanan perusahaan. Wafi memproyeksikan monetisasi data akan semakin kuat seiring perluasan jaringan yang dilakukan perseroan.

"Prospeknya positif. Ekspansi jaringan, terutama di luar Jawa, akan memperkuat monetisasi data," ujar Wafi.

Pertumbuhan kinerja ke depan juga diharapkan berasal dari kenaikan rata-rata pendapatan per pengguna (ARPU) dan rasionalisasi tarif data di industri telekomunikasi. Wafi menambahkan bahwa layanan digital berbasis B2B dan teknologi kecerdasan buatan menjadi peluang pertumbuhan baru bagi ISAT.

"Depresiasi rupiah bisa membebani biaya capex lanjutan dan sewa menara," imbuh Wafi.

Peringatan tersebut diberikan mengingat adanya risiko tekanan daya beli masyarakat akibat inflasi serta pelemahan nilai tukar rupiah yang dapat meningkatkan beban operasional. Meskipun demikian, sektor fixed broadband melalui Indosat HiFi tetap dipandang sebagai sumber pendapatan potensial.

Analis KB Valbury Sekuritas Steven Gunawan memberikan proyeksi bahwa pendapatan data akan mendominasi struktur keuangan perusahaan pada tahun buku 2026. Ia memperkirakan jumlah pelanggan akan tetap stabil pada angka 93,7 juta jiwa dengan trafik yang terus meningkat.

"Kami memproyeksikan pendapatan data tumbuh 7,6% secara tahunan menjadi Rp 46,7 triliun, didorong oleh jumlah pelanggan yang stabil di kisaran 93,7 juta serta pertumbuhan trafik sebesar 8,3%," ujar Steven.

Analisis tersebut mencakup stabilitas yield pada level Rp 2,44 per MB dan peningkatan ARPU menjadi Rp 44.900 secara moderat. Steven juga menyoroti peluang besar pada segmen fixed broadband (FBB) karena tingkat penetrasi pasar di dalam negeri yang masih tergolong rendah.

Berdasarkan data laporan keuangan terakhir, ISAT mengantongi pendapatan Rp 56,52 triliun pada 2025 dengan laba bersih mencapai Rp 5,51 triliun. Untuk tahun 2026, pendapatan diprediksi naik 4,9 persen menjadi Rp 59,29 triliun, sementara laba bersih diperkirakan menyentuh angka Rp 6,02 triliun.

Artikel terkait

Rekomendasi