Kinerja penjualan eceran di Indonesia menunjukkan performa positif pada Februari 2026. Berdasarkan laporan Bank Indonesia yang dikutip dari Investortrust, Indeks Penjualan Riil pada bulan tersebut mencapai 232,7 atau mengalami pertumbuhan sebesar 6,5% secara tahunan.
Pencapaian ini mencatatkan akselerasi jika dibandingkan dengan pertumbuhan pada Januari 2026 yang berada di angka 5,7% dengan indeks sebesar 223,6. Secara bulanan, penjualan eceran mengalami pemulihan dengan pertumbuhan 4,1%, berbalik dari kondisi Januari 2026 yang sempat terkoreksi -2,7%.
ÔÇ£Pertumbuhan tersebut didukung oleh peningkatan penjualan pada mayoritas kelompok, terutama kelompok suku cadang dan aksesori, kelompok makanan, minuman, dan tembakau, dan subkelompok sandang,ÔÇØ kata Direktur Executif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, Senin (13/4/2026).
Sektor suku cadang dan aksesori mencatatkan pertumbuhan tertinggi secara tahunan dengan kenaikan 13,1% dan indeks sebesar 157,5. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyusul dengan indeks 331,4 atau tumbuh 8,8%, sementara subkelompok sandang berada di posisi indeks 91,5 dengan pertumbuhan 4,9%.
Secara spasial, lonjakan omzet penjualan eceran terjadi di sejumlah kota besar. Banjarmasin memimpin peningkatan dengan pertumbuhan 15% secara tahunan, diikuti Surabaya sebesar 13,2%, Jakarta sebesar 3,2%, dan Medan yang tumbuh tipis sebesar 0,2%.
Para pelaku usaha eceran memproyeksikan tren ekspansi ini masih akan berlanjut dalam tiga hingga enam bulan ke depan. Optimisme ini tecermin dari Indeks Ekspektasi Penjualan Mei dan Agustus 2026 yang masing-masing menguat ke level 147,2 dan 162,4, lebih tinggi dibandingkan proyeksi April dan Juli.
Siklus perayaan hari besar keagamaan nasional seperti Iduladha, Kenaikan Yesus Kristus, dan Waisak menjadi pendorong utama lonjakan permintaan pada Mei. Sementara itu, momentum tahun ajaran baru sekolah dan perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia diprediksi mendongkrak penjualan pada Agustus.
Dari aspek pergerakan harga, tekanan inflasi diperkirakan mengalami kenaikan dalam jangka pendek pada Mei 2026 seiring meningkatnya harga bahan baku. Kondisi tersebut ditunjukkan oleh Indeks Ekspektasi Harga Umum Mei sebesar 157,5, namun diperkirakan bergerak stabil pada Agustus 2026 di level 157,2.