Emiten Asuransi Cetak Kinerja Beragam Sepanjang 2025 di Tengah PSAK 117

Emiten Asuransi Cetak Kinerja Beragam Sepanjang 2025 di Tengah PSAK 117
Foto: Ilustrasi Emiten Asuransi Cetak Kinerja Beragam Sepanjang 2025 di Tengah PSAK 117.

Kinerja berbagai emiten asuransi di sepanjang tahun 2025 memperlihatkan tren yang bervariatif. Dinamika ini terjadi di tengah masa transisi penerapan PSAK 117 yang mengatur tentang kontrak asuransi.

Kondisi keuangan tersebut tecermin langsung dalam capaian aset, perolehan laba tahun berjalan, serta pendapatan dan beban jasa asuransi. Data ini dilansir dari Finansial berdasarkan hasil tabulasi laporan keuangan para emiten.

Hingga saat ini, tercatat masih ada dua perusahaan dari total 16 emiten asuransi yang belum menyerahkan laporan keuangan tahun buku 2025 audited. Keduanya telah memberikan notifikasi potensi keterlambatan kepada OJK dan Bursa Efek Indonesia.

Berdasarkan data 14 perusahaan yang sudah melapor, PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU) memimpin perolehan aset terbesar senilai Rp27,71 triliun. Posisi berikutnya ditempati PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk (LIFE) dengan aset Rp15,87 triliun.

Asuransi Multi Artha Guna Tbk (AMAG) berada di urutan ketiga dengan total aset mencapai Rp5,74 triliun. Di sisi lain, beberapa perusahaan menunjukkan akselerasi pertumbuhan aset yang cukup signifikan selama tahun 2025.

PT Malacca Trust Wuwungan Insurance Tbk (MTWI) mencatat lonjakan aset sebesar 48,89% secara tahunan (YoY) menjadi Rp3,60 triliun. PT Victoria Insurance Tbk (VINS) juga tumbuh 42,24% menjadi Rp334,27 miliar.

Selanjutnya, PT Asuransi Digital Bersama Tbk (YOII) mencatatkan kenaikan aset sebesar 38,43% YoY menjadi Rp347,24 miliar. Data aset ini menunjukkan bagaimana skala bisnis masing-masing emiten berkembang di tengah regulasi baru.

Rapor Laba dan Pendapatan Jasa Asuransi

Dari sisi profitabilitas, tercatat delapan emiten berhasil membukukan kenaikan laba, sementara enam perusahaan mengalami penurunan, dan satu lainnya menderita kerugian. TUGU kembali memimpin dengan laba konsolidasian Rp762,42 miliar atau melonjak 80,61% YoY.

LIFE menyusul dengan perolehan laba Rp206,22 miliar meski secara angka mengalami penurunan sebesar 44,52% YoY. Begitu pula dengan AMAG yang mengantongi laba Rp156,48 miliar setelah terkoreksi 41% YoY.

Pertumbuhan laba paling tajam justru dicapai oleh PT Asuransi Maximus Graha Persada Tbk (ASMI) yang melejit 349,33% YoY menjadi Rp22,91 miliar. Namun, data ASMI ini merupakan angka belum diaudit yang tercantum pada laman resmi perusahaan.

Asuransi Bina Dana Arta Tbk (ABDA) atau Oona Insurance juga mencatat pertumbuhan laba 157,95% YoY menjadi Rp99,77 miliar. Disusul Lippo General Insurance Tbk (LPGI) yang labanya tumbuh 125,69% YoY menjadi Rp144,73 miliar.

Analisis Pendapatan dan Beban Jasa

TUGU menempati posisi puncak dalam pendapatan jasa asuransi dengan raihan Rp9,10 triliun. LPGI dan AMAG mengikuti di posisi kedua dan ketiga dengan masing-masing mengumpulkan Rp3,76 triliun dan Rp2,79 triliun.

Secara persentase pertumbuhan pendapatan, YOII menjadi yang terdepan dengan kenaikan mencapai 122,91% YoY menjadi Rp730,69 miliar. LIFE juga mencatatkan pertumbuhan pendapatan jasa sebesar 26,67% YoY menjadi Rp1,96 triliun.

Pada aspek beban jasa asuransi, TUGU mencatat nilai terbesar yakni Rp8,25 triliun. Diikuti LPGI dengan beban Rp3,42 triliun dan LIFE yang mencatatkan beban senilai Rp2,03 triliun sepanjang tahun 2025.

Meskipun mayoritas beban meningkat, beberapa emiten berhasil melakukan efisiensi. Asuransi Bintang Tbk (ASBI) mampu menekan beban jasa asuransi sebesar 21,07% YoY menjadi Rp147,70 miliar.

Langkah serupa juga diikuti oleh ASMI yang bebannya turun 11,24% menjadi Rp266,46 miliar. Asuransi Ramayana Tbk (ASRM) dan ABDA juga mencatatkan penurunan beban jasa asuransi masing-masing sebesar 7,65% dan 3,77%.

Strategi Efisiensi dan Tantangan PSAK 117

Asuransi Bintang Tbk (ASBI) mengonfirmasi telah mengimplementasikan PSAK 117 sejak 30 Maret 2026 untuk laporan tahun buku 2025. Perusahaan ini bahkan telah merilis laporan kuartal I/2026 secara unaudited.

Presiden Direktur ASBI, Hastanto Sri Margi Widodo, menjelaskan bahwa laba membaik berkat kenaikan hasil usaha bersih dan penurunan beban umum. Penurunan beban asuransi yang signifikan merupakan dampak dari kebijakan pembersihan portofolio.

"Beban asuransi turun signifikan dari Rp40 miliar ke Rp23 miliar sebagai hasil dari portfolio cleansing yang telah kami jalankan selama 3 tahun ini. Untuk Beban umum, konversi 10 kendaraan operasional menjadi mobil listrik juga kontribusi penurunan biaya bahan bakar yang cukup tinggi," ujar Widodo.

Peningkatan margin di seluruh lini produk ASBI didorong oleh penetapan indikator kinerja utama (KPI) berbasis Contractual Service Margin (CSM). Fokus dialihkan pada produk properti sementara mengurangi segmen rangka kapal dan engineering yang kurang menguntungkan.

Widodo mengungkapkan tantangan utama ke depan adalah potensi perbedaan revaluasi atas kontrak tahun 2025 saat dihitung kembali di tahun 2026. Kehati-hatian dalam menghindari kontrak yang merugi menjadi prioritas utama manajemen.

"Sehingga keseluruhan pegawai di dis-insentify daripada menjual kontrak merugi," kata Widodo.

Saat ini, ASBI menjadi salah satu peserta uji coba sistem New RBC yang dicanangkan OJK bersama World Bank. Berdasarkan model perhitungan baru (PSAK 114), ASBI menghasilkan Core Solvency Ratio sebesar 185% dan Overall Solvency Ratio mencapai 319%.

"Kami juga sudah melakukan perhitungan Proforma RBC baru untuk kuartal I/2026 dan menghasilkan tingkatan solvency sebagai berikut, Core Solvency Ratio 193% dan Overal Solvency Ratio 305%," tutur Widodo.

Artikel terkait

Rekomendasi