Umat Islam melaksanakan ibadah sunnah dhuha pada pagi hari Kamis, 16 April 2026, sebagai sarana memohon kelapangan rezeki dan keberkahan hidup kepada Allah SWT melalui rangkaian doa khusus. Dilansir dari Detikcom, ibadah ini memiliki berbagai keutamaan besar mulai dari pengganti sedekah hingga janji pembangunan istana di surga.
Landasan utama pelaksanaan ibadah ini merujuk pada wasiat Rasulullah SAW yang menjaga konsistensi sholat sunnah tersebut hingga akhir hayatnya. Hal ini tercermin dalam riwayat Abu Hurairah RA mengenai pesan mendalam yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW kepada para sahabatnya.
"Aku telah diberi tiga pesan oleh kekasihku Rasulullah. Aku tidak pernah meninggalkan tiga hal itu sampai aku dipanggil oleh Yang Mahakuasa: (1) puasa tiga hari pada setiap bulan; (2) sholat dhuha; (3) sholat witir." kata Rasulullah SAW sebagaimana tercantum dalam HR Bukhari dan Muslim.
Selain pelaksanaan sholat, pembacaan doa sesudah dhuha menjadi bagian yang tidak terpisahkan bagi para jemaah. Achmad Munib dalam buku Menggapai Surga dengan Doa menjelaskan bahwa doa tersebut berisi pengakuan atas kekuasaan Allah SWT atas seluruh aspek kehidupan manusia.
"Wahai Tuhanku, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu, keagungan adalah keagungan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, penjagaan adalah penjagaan-Mu. Wahai Tuhanku, apabila rezekiku berada di atas langit maka turunkanlah, apabila berada di dalam bumi maka keluarkanlah, apabila sukar mudahkanlah, apabila haram sucikanlah, apabila jauh dekatkanlah dengan kebenaran dhuha-Mu, kekuasaan-Mu (Wahai Tuhanku), datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan kepada hamba-hamba-Mu yang saleh." bunyi doa yang dikutip Achmad Munib.
Secara medis dan spiritual, setiap persendian tubuh manusia diwajibkan bersedekah setiap pagi yang dapat dipenuhi melalui dua rakaat dhuha. Hal ini ditegaskan dalam riwayat Abu Dzar mengenai nilai setiap tasbih dan amal kebaikan yang setara dengan ibadah sunnah pagi hari tersebut.
"Setiap ruas dari anggota tubuh di antara kalian pada pagi hari, harus dikeluarkan sedekahnya. Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kebaikan adalah sedekah, dan mencegah kemungkaran adalah sedekah. Dan semua itu dapat disepadankan dengan mengerjakan sholat dhuha dua rakaat." terang Rasulullah SAW dalam HR Muslim.
Janji Allah SWT mengenai kecukupan kebutuhan hidup juga menjadi motivasi besar bagi umat yang melaksanakannya. Dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan Abu Darda RA, ditegaskan adanya jaminan perlindungan dan kecukupan hingga sore hari bagi mereka yang sholat di awal siang.
"Wahai anak Adam, rukuklah (sholatlah) untuk-Ku pada awal siang empat rakaat, maka Aku akan mencukupi kebutuhanmu hingga sore hari." firman Allah SWT dalam HR Tirmidzi.
Kedudukan orang yang menjaga sholat dhuha juga mendapatkan tempat istimewa sebagai golongan awwabin atau orang-orang yang kembali kepada Allah. Penegasan ini disampaikan oleh Rasulullah SAW dalam riwayat yang divalidasi oleh Ibnu Khuzaimah dan Hakim.
"Tidak ada yang menjaga sholat dhuha kecuali orang-orang yang kembali kepada Allah (awwabin), dan itu adalah sholatnya orang-orang yang awwabin." tutur Rasulullah SAW.
Manfaat lain yang sangat krusial adalah fungsi penghapusan dosa-dosa masa lalu bagi hamba yang istiqamah. Rasulullah SAW menggambarkan luasnya ampunan Tuhan bagi para penjaga sholat dhuha bahkan jika kesalahan mereka memenuhi lautan.
"Barang siapa yang menjaga sholat dhuha, maka dosa-dosanya akan diampuni walaupun sebanyak buih di lautan." jelas Rasulullah SAW dalam HR Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad.
Pada hari perhitungan amal atau kiamat, sholat sunnah dhuha berperan sebagai penyempurna kekurangan dalam ibadah wajib. Penjelasan mengenai proses hisab amalan sholat ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i dan Abu Dawud.
"Sesungguhnya yang pertama kali dihisab pada diri hamba pada hari kiamat dari amalannya adalah sholatnya. Apabila benar (sholatnya) maka ia telah lulus dan beruntung, dan apabila rusak (sholatnya) maka ia akan kecewa dan rugi. Jika terdapat kekurangan pada sholat wajibnya, maka Allah berfirman, 'Perhatikanlah, jikalau hamba-Ku mempunyai sholat sunnah maka sempurnakanlah dengan sholat sunnahnya sekadar apa yang menjadi kekurangan pada sholat wajibnya. Jika selesai urusan sholat, barulah amalan lainnya." papar Rasulullah SAW.
Puncak dari ganjaran ibadah dhuha adalah janji hunian mewah di akhirat bagi mereka yang mengerjakan dua belas rakaat. Anas bin Malik RA meriwayatkan janji nabi tentang pemberian istana emas bagi hamba yang tekun melaksanakan jumlah rakaat tersebut.
"Barang siapa sholat dhuha dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan baginya sebuah istana dari emas di surga." pungkas Rasulullah SAW dalam HR Tirmidzi dan Ibnu Majah.