Ketidaksesuaian antara latar belakang pendidikan dan bidang pekerjaan semakin menjadi sorotan di tengah besarnya jumlah usia produktif di Indonesia. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memicu persoalan baru bagi pasar kerja nasional dan bukan sekadar masalah salah jurusan.
Riset NEXT Indonesia Center menunjukkan sebagian besar tenaga kerja di dalam negeri bekerja di bidang yang tidak sejalan dengan latar belakang pendidikan maupun keahlian mereka. Hal ini dilansir dari Media Indonesia sebagai tanda adanya masalah struktural dalam perekonomian.
"Kita sedang menghadapi situasi di mana ijazah sering kali tidak menjadi tiket utama di pasar kerja. Ketidaksinkronan antara sistem pendidikan dan kebutuhan industri telah menciptakan inefisiensi masif yang jika dibiarkan akan menjadi 'bom waktu' bagi pembangunan nasional," ujarnya dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (17/5).
Data Badan Pusat Statistik (BPS) turut menunjukkan pasar kerja Indonesia masih didominasi sektor informal. Hingga Februari 2026, jumlah pekerja informal mencapai 87,74 juta orang, sedangkan pekerja formal tercatat hanya 59,93 juta orang.
Dominasi sektor informal ini dianggap memperbesar potensi mismatch karena banyak pekerjaan di sektor tersebut tidak membutuhkan keterampilan khusus. Herry Gunawan menjelaskan bahwa mismatch tenaga kerja terbagi menjadi dua jenis, yakni vertikal dan horizontal.
Mismatch vertikal terjadi ketika tingkat pendidikan tidak sebanding dengan pekerjaan yang dijalani. Sebaliknya, mismatch horizontal muncul saat bidang studi berbeda dengan profesi yang ditekuni.
Merujuk data Organisasi Buruh Internasional (ILO) tahun 2023, sekitar 57,3% pekerja di Indonesia mengalami mismatch vertikal. Kondisi ini mencakup pekerja yang pendidikannya lebih rendah maupun lebih tinggi dari kebutuhan pekerjaan, dan paling banyak dialami lulusan perguruan tinggi.
"Jadi cuma sekitar 40% yang bekerja sesuai dengan pendidikannya," kata dia.
Sementara dari sisi horizontal, sekitar 33,5% lulusan pendidikan tinggi bekerja di bidang yang tidak relevan dengan jurusan kuliah mereka. Bahkan lulusan diploma memiliki tingkat mismatch horizontal yang cukup tinggi.
"Sementara secara horizontal sekitar 33,5% lulusan pendidikan tinggi bekerja di bidang yang tidak relevan dengan latar belakang studinya. Bahkan sangat ironis melihat lulusan DI/II/III memiliki tingkat mismatch horizontal cukup tinggi mencapai 42,03%," ungkapnya.
Lulusan berpendidikan lebih tinggi justru membutuhkan waktu lebih lama untuk memperoleh pekerjaan dibanding mereka yang berpendidikan rendah. Kondisi tersebut menunjukkan belum sinkronnya kebutuhan industri dengan sistem pendidikan.
Dampaknya, pekerja yang berada dalam posisi mismatch berisiko menerima upah lebih rendah dan stagnan dibanding pekerja yang bekerja sesuai bidangnya. Hal tersebut menjadi kerugian jangka panjang bagi produktivitas ekonomi nasional.
Riset NEXT Indonesia Center juga menemukan kelompok masyarakat miskin dan rentan miskin didominasi pekerja informal. Sebaliknya, kelompok ekonomi atas sebagian besar bekerja di sektor formal.
"Artinya, pekerjaan formal adalah kunci utama untuk 'naik kelas' secara ekonomi. Namun, tantangannya adalah sektor formal kita belum mampu tumbuh cukup cepat untuk mengimbangi lonjakan angkatan kerja baru," ujar Herry.
Perbaikan sistem pendidikan saja dinilai tidak cukup untuk mengatasi persoalan tersebut. Pemerintah perlu mendorong transformasi ekonomi yang mampu menciptakan lapangan kerja berkualitas dan menyerap tenaga kerja terampil.
Riset itu turut menunjukkan pelatihan kerja dan pengalaman magang berperan penting menekan mismatch. Lulusan yang pernah mengikuti pelatihan tercatat memiliki tingkat ketidaksesuaian pekerjaan lebih rendah.
Sistem informasi pasar kerja juga perlu diperkuat agar masyarakat memiliki gambaran lebih jelas terkait kebutuhan industri.
"Kita butuh sistem informasi yang adaptif agar pilihan karir dan pendidikan tidak lagi didasarkan pada asumsi atau tren sesaat, melainkan pada kebutuhan nyata industri yang bisa menyelamatkan masa depan generasi produktif di Indonesia," pungkasnya. (Z-2)