Ketergantungan pasar domestik terhadap pasokan barang modal dan industri asal Tiongkok tercatat semakin mendalam pada awal tahun ini. Berdasarkan data terbaru, pangsa impor nonmigas dari Negeri Tirai Bambu tersebut menyentuh angka 41,56 persen dari total keseluruhan impor nasional.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa nilai masuknya barang nonmigas dari China menembus angka US$22,02 miliar selama periode Januari hingga Maret 2026. Seperti dikutip dari Ekonomi, kondisi ini mempertegas posisi China sebagai mitra dagang utama Indonesia.
Struktur impor dari negara tersebut didominasi oleh kelompok mesin serta peralatan mekanis yang nilainya mencapai US$5,10 miliar. Selain itu, kelompok mesin dan perlengkapan elektrik memberikan kontribusi besar dengan nilai US$4,89 miliar pada kuartal pertama tahun ini.
Kebutuhan akan produk manufaktur juga terlihat dari tingginya angka impor kendaraan beserta komponennya yang mencapai US$1,21 miliar. Hal ini mencerminkan tingginya kebutuhan sektor industri dalam negeri terhadap pasokan dari luar negeri, khususnya China.
Di posisi kedua, Australia hadir sebagai pemasok dengan kontribusi nilai sebesar US$3,14 miliar atau setara 5,94 persen dari pangsa pasar. Terjadi lonjakan signifikan pada komoditas logam mulia dan perhiasan yang tumbuh hingga 469,05 persen dari negara tersebut.
Selain logam mulia, pengiriman serealia dari Australia ke Indonesia juga mengalami kenaikan sebesar 38,36 persen. Namun, tren positif ini tidak diikuti oleh sektor energi karena impor bahan bakar mineral justru terkontraksi sebesar 21,52 persen.
Sementara itu, performa impor dari Jepang menunjukkan tren penurunan dengan nilai total US$2,90 miliar dan pangsa pasar 5,47 persen. Sejumlah komoditas utama dari Negeri Sakura ini mengalami koreksi yang cukup tajam di berbagai lini utama.
Penurunan tersebut mencakup sektor mesin dan peralatan mekanis yang anjlok 24,80 persen, serta sektor kendaraan dan bagiannya yang turun 38,36 persen. Komoditas besi dan baja juga tercatat mengalami koreksi sebesar 23,24 persen pada periode yang sama.
Distribusi Impor Berdasarkan Kawasan
Secara kewilayahan, negara-negara di kawasan ASEAN memberikan kontribusi sebesar 14,90 persen terhadap total impor nonmigas Indonesia. Kelompok negara Uni Eropa menyusul dengan andil sebesar 6,34 persen, sementara sisanya berasal dari berbagai negara lain sebesar 25,79 persen.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, memberikan penegasan mengenai posisi kuat Tiongkok dalam struktur perdagangan luar negeri Indonesia. Tiongkok tetap menjadi negara asal utama untuk pengadaan barang-barang nonmigas selama Januari hingga Maret 2026.
Tingginya konsentrasi pada satu negara asal ini menjadi sinyal penting bagi peta industri nasional. Terutama karena sebagian besar barang yang didatangkan merupakan kebutuhan pokok bagi barang modal dan bahan penunjang aktivitas produksi industri domestik.