Pasar saham Amerika Serikat mengalami penurunan pada pembukaan perdagangan akibat kekhawatiran gangguan pasokan minyak di Selat Hormuz setelah munculnya laporan mengenai sikap keras Iran. Pergerakan negatif ini melanda tiga indeks utama Wall Street di tengah meningkatnya kecemasan investor terhadap inflasi global.
Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 25,5 poin atau 0,05 persen ke level 49.983,8, dilansir dari Investasi yang mengutip laporan Reuters. Penurunan juga terjadi pada indeks S&P 500 sebesar 22,2 poin atau 0,30 persen ke posisi 7.410,78, sementara Nasdaq Composite merosot 126,7 poin atau 0,48 persen menjadi 26.143,6.
Kondisi ini dipicu oleh harga minyak Brent yang melonjak 1,7 persen menjadi US$ 106,82 per barel karena kekhawatiran pasar terhadap stabilitas jalur pasokan minyak dunia. Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke level 4,611 persen, yang menambah tekanan terhadap pergerakan pasar saham.
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh kinerja emiten besar, termasuk penurunan saham Walmart sebesar 2,9 persen pada perdagangan premarket. Perusahaan ritel tersebut memproyeksikan laba kuartal kedua di bawah ekspektasi pasar akibat kondisi ekonomi domestik yang menantang.
"proyeksi Walmart memicu kekhawatiran investor bahwa tingginya harga minyak dan inflasi mulai berdampak pada prospek sektor ritel," kata Chief Investment Strategist CFRA Research Sam Stovall.
Di sektor teknologi, saham Nvidia turun tipis 0,8 persen meskipun perusahaan memperkirakan pendapatan kuartal kedua melampaui estimasi Wall Street dan mengumumkan program buyback senilai US$ 80 miliar. Pergerakan ini terjadi saat pelaku pasar juga memantau rencana pengajuan IPO SpaceX yang diumumkan pada hari Rabu.
Sebaliknya, saham perusahaan teknologi kuantum menguat tajam setelah pemerintahan Donald Trump mengumumkan pemberian hibah. Saham IBM naik 5,8 persen, GlobalFoundries melonjak 13,4 persen, D-Wave Quantum naik 14,5 persen, Rigetti Computing menguat 13,2 persen, dan Infleqtion melonjak 21,5 persen.