Terbangun di tengah malam merupakan kondisi yang wajar jika terjadi sesekali akibat faktor suhu atau suara bising. Namun, intensitas gangguan tidur yang tinggi tanpa alasan fisik yang jelas patut diwaspadai sebagai sinyal masalah psikologis.
Perasaan stres dan kesepian menjadi faktor pemicu yang sering kali tidak disadari oleh individu. Dilansir dari Lifestyle, sebuah penelitian dari Oregon State University pada tahun 2024 menunjukkan adanya kaitan erat antara isolasi sosial dengan mimpi buruk.
Hasil studi tersebut menemukan bahwa seseorang yang merasa kesepian cenderung mengalami mimpi yang tidak menyenangkan saat terlelap. Kondisi ini dipicu oleh akumulasi stres yang tidak terselesaikan dengan baik dalam kehidupan sehari-hari.
Psikolog klinis Vanessa Kennedy menjelaskan bahwa kesepian memiliki dampak yang sangat mendalam bagi kesejahteraan mental. Perasaan ini muncul akibat kurangnya hubungan emosional yang saling percaya antarmanusia.
"Kesepian adalah perasaan terisolasi yang menyedihkan atau kurangnya hubungan yang saling terhubung dan saling percaya," kata Vanessa Kennedy.
Manifestasi dari kondisi ini dapat berupa ketiadaan pertemanan yang bermakna hingga ketakutan untuk memulai interaksi sosial. Menurut Kennedy, kesepian yang mulai memengaruhi suasana hati memerlukan perhatian khusus agar tidak semakin memperburuk kualitas hidup.
Kaitan Alam Bawah Sadar dan Fase Tidur
Mimpi buruk biasanya muncul ketika alam bawah sadar tetap aktif merespons rangsangan tertentu meskipun tubuh sedang beristirahat total. Psikolog klinis Meghan Marcum menyebutkan bahwa fenomena ini sering terjadi pada tahapan tidur tertentu.
"Penelitian menunjukkan bahwa mimpi buruk sering muncul selama tidur REM, atau tahap tidur yang lebih dalam, ketika alam bawah sadar sedang aktif," ujar Meghan Marcum.
Otak manusia secara cepat memproyeksikan emosi negatif seperti kecemasan dan trauma ke dalam mimpi. Data statistik menunjukkan bahwa perempuan memiliki kerentanan yang lebih tinggi dalam mengalami mimpi buruk akibat paparan stres.
Kennedy menambahkan bahwa individu yang terjebak dalam kesepian kronis sering kali kehilangan sandaran emosional saat menghadapi beban mental. Hal ini menyebabkan pikiran menjadi liar karena ketakutan tanpa adanya dukungan sosial untuk menenangkan diri.
Jenis Kesepian dan Risiko Kesehatan fisik
Secara garis besar, rasa sepi dapat dibedakan menjadi dua kategori, yakni kesepian sosial dan kesepian emosional. Kesepian sosial merujuk pada ketiadaan interaksi fisik atau penarikan diri dari lingkungan masyarakat.
Munculnya keyakinan bahwa tidak ada orang yang mampu memahami perasaan seseorang sering kali mendorong keputusan untuk mengisolasi diri. Padahal, isolasi berkepanjangan membawa risiko kesehatan yang cukup serius bagi tubuh manusia.
Individu yang mengalami kesepian dalam jangka panjang berisiko lebih tinggi terkena hipertensi serta penyakit kardiovaskular. Masalah kesehatan ini umumnya diperparah oleh kondisi stres kronis yang tidak tertangani.
Meskipun tidak ada solusi instan, langkah praktis dapat dilakukan untuk memperbaiki kualitas tidur dan hubungan sosial. Salah satunya adalah dengan mulai bergabung dalam komunitas hobi, seperti kelompok olahraga lari atau menghadiri pertemuan dengan teman lama.