Komunitas Pecinta Kucing Tekankan Kesejahteraan Hewan dalam Konten Media Sosial

Komunitas Pecinta Kucing Tekankan Kesejahteraan Hewan dalam Konten Media Sosial
Foto: Ilustrasi Komunitas Pecinta Kucing Tekankan Kesejahteraan Hewan dalam Konten Media Sosial.

Komunitas Pecinta Kucing menyoroti tren fenomena hewan peliharaan yang bertransformasi menjadi selebritas media sosial dengan menekankan pentingnya kesejahteraan hewan sebagai prioritas utama. Dilansir dari Megapolitan, fenomena ini tidak hanya menjadi sarana hiburan tetapi juga platform edukasi bagi pemilik hewan di Indonesia pada Rabu (22/4/2026).

Elsa dari Komunitas Pecinta Kucing menyampaikan bahwa popularitas hewan di dunia maya dapat meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap perlindungan hewan. Ia melihat adanya dampak positif bagi penonton sebagai sarana penghilang stres melalui keunikan karakter peliharaan yang ditampilkan.

"Salah satunya meningkatkan kepedulian terhadap kesejahteraan hewan (animal welfare), mengedukasi tentang cara merawat kucing yang benar, dan menjadi hiburan (stress relief) bagi penontonnya," jelas Elsa.

Pemilik akun diingatkan untuk memperhatikan batas wajar dalam pembuatan konten agar tidak terjebak dalam praktik eksploitasi. Elsa menegaskan bahwa pengambilan video harus dilakukan saat hewan sedang beraktivitas secara sukarela tanpa ada unsur paksaan atau rasa sakit.

"Menurut kami, batas yang masih wajar membuat konten dengan kucing, mengambil video saat mereka sedang bermain, tidur, atau berinteraksi secara sukarela. Kucingnya tidak dalam keadaan sakit kucingnya tidak disakiti ataupun menyakiti," tegas Elsa.

Teknik bercerita kini berkembang dengan penggunaan pengisi suara yang seolah-olah memberikan kepribadian unik pada setiap hewan. Hal ini mengubah posisi hewan dari sekadar objek pasif menjadi subjek atau konten kreator itu sendiri dalam bingkai video.

"Sekarang banyak akun yang menggunakan voiceover seolah-olah si kucing yang berbicara, atau menampilkan kepribadian unik (misalnya kucing yang galak, kucing yang 'bekerja' di kantor, atau kucing yang suka traveling)," ujar Elsa.

Prinsip utama yang harus dipegang oleh para pemilik akun adalah memahami bahasa tubuh hewan untuk memastikan mereka merasa aman. Jika terdapat tanda-tanda ketidaknyamanan, pemilik diminta untuk segera menghentikan aktivitas perekaman demi menjaga kondisi psikologis hewan peliharaan.

"Pesan-pesan untuk para selebcing, jika ingin menjadikan kucingmu bintang media sosial, ingatlah Kesejahteraan kucing lebih utama daripada jumlah pengikut. Pahami Bahasa Tubuh: Jika ekornya bergerak cepat atau telinganya turun, artinya dia tidak nyaman. Berhenti merekam," jelas Elsa.

Panggung popularitas di media sosial disarankan untuk digunakan sebagai sarana menyebarkan informasi penting mengenai perawatan hewan. Elsa mendorong para kreator untuk menyelipkan pesan mengenai sterilisasi dan vaksinasi dalam konten yang mereka buat.

"Jadilah Edukator: Gunakan panggungmu untuk menyebarkan cara merawat kucing yang baik (seperti pentingnya sterilisasi atau vaksin). Kucing adalah Subjek, Bukan Objek: Perlakukan mereka sebagai teman hidup, bukan sekadar properti pencari uang," pungkasnya.

Shafa (25), seorang penikmat konten, mengaku bahwa video hewan peliharaan menjadi hiburan bermakna saat dirinya merasa lelah. Mengingat kondisi alergi yang dideritanya, konten digital menjadi alternatif untuk menyalurkan keinginan memiliki peliharaan.

ÔÇ£Kadang kalau lagi capek, lihat video hewan itu bisa bikin senyum sendiri. Apalagi buat saya yang tidak bisa interaksi langsung, konten seperti ini cukup berarti,ÔÇØ ujarnya.

Keterbatasan fisik akibat alergi bulu yang parah membuat Shafa hampir setiap hari menyimak konten serupa di layar ponselnya. Baginya, melihat keseharian hewan di internet memberikan kebahagiaan tersendiri tanpa harus terpapar alergen secara langsung.

ÔÇ£Karena itu jadi semacam pengganti sih buat saya. Karena tidak bisa punya langsung, jadi nonton konten hewan itu kayak pelampiasan rasa pengin punya peliharaan,ÔÇØ katanya.

Meski sangat menyukai konten tersebut, Shafa tetap mengkritisi video yang menunjukkan pemaksaan terhadap hewan. Ia menaruh perhatian pada aspek kelayakan penggunaan kostum atau perintah tertentu yang tampak membebani hewan peliharaan.

ÔÇ£Apalagi kalau lihat hewan yang dipaksa pakai kostum atau disuruh melakukan sesuatu yang kelihatan dia enggak nyaman,ÔÇØ ungkapnya.

Salah satu pemilik akun, Anisa Dwi atau Ica, menceritakan bahwa popularitas kucingnya yang bernama Neng Molen tumbuh secara organik. Akun @Nengmolencantik yang awalnya hanya dokumentasi pribadi kini menarik banyak pengikut karena karakter unik kucingnya.

ÔÇ£Kalau Neng itu kan walaupun terlihatnya galak tapi dia sebenarnya bisa berinteraksi dengan manusia gitu loh, enggak takut sama manusia lebih tepatnya dibandingkan anak-anaknya yang lumayan agak susah," kata Ica.

Ica menjamin bahwa setiap kerja sama dengan brand selalu menyesuaikan dengan kondisi dan kenyamanan Neng Molen. Ia tetap mempertahankan sisi spontanitas dalam setiap konten yang diunggah tanpa mengikuti tren yang memaksa.

"Misalnya kayak sorry brand minta storyline nih aku pasti dikasih note kondisi Neng disesuaikan jadi kayak nanti Neng mau lagi ngapain kita sesuaikan saja," ungkapnya.

Banyak pengikut yang mengirimkan pesan kepada Ica mengenai dampak positif konten tersebut terhadap kesehatan mental mereka. Cerita dari penonton yang sedang sakit atau depresi menjadi motivasi tambahan baginya untuk terus berbagi keseharian Neng.

"Karena enggak sekali dua kali aku dapat DM yang menyentuh hati ya orang lagi depresi, orang lagi sakit cancer bahkan kayak bilang keseharian mereka tuh jauh lebih berwarna karena nonton konten Neng," tuturnya.

Tantangan utama dalam merawat Neng Molen adalah kondisi alergi yang dimiliki oleh kucing itu sendiri terhadap lingkungan luar. Ica harus rutin melakukan pemeriksaan medis dan memandikan peliharaannya sesuai anjuran dokter untuk menjaga stabilitas kesehatannya.

ÔÇ£Kalau Neng itu karena punya alergi tadi aku kan enggak bisa mengontrol Itu kan alerginya, misal habis jalan dari luar aku membawa sari rumput Itu aku enggak tahu, Jadi aku disarankan sama dokter itu paling maksimal tuh dua minggu sekali lah," ujarnya.

Selain rutin memandikan, Ica juga menjadwalkan kunjungan ke dokter hewan setidaknya satu hingga dua bulan sekali. Langkah ini dilakukan untuk memastikan Neng Molen tetap dalam kondisi prima di tengah kesibukan sebagai hewan populer.

ÔÇ£Dua minggu sekali aku mandiin Neng terus sebulan sekali aku mengontrol ke dokter. Kalau ke dokter itu sebulan atau dua bulan sekali, "jelas dia.

Tren ini juga diikuti oleh Siska Ermaya (22) yang mempopulerkan sugar glider miliknya bernama Luna melalui platform TikTok. Sejak memulai akun pada tahun 2025, unggahannya sering mendapatkan respons besar dan masuk dalam jajaran konten populer.

"Pertama membuat akun tahun 2025 awalnya untuk konten diri sendiri tapi karena banyak stok video dan foto hewan peliharaan saya si Luna jadi saya mulai iseng post di akun ini dan ternyata views-nya banyak langsung fyp," ujar Siska.

Siska memanfaatkan ketertarikan warganet untuk memberikan edukasi mengenai cara merawat hewan eksotis yang benar. Baginya, tingginya jumlah penonton adalah peluang untuk berbagi informasi mengenai karakteristik spesifik sugar glider.

"Karena winning konten aku ada saat aku post hewan peliharaan aku dan lebih ingin mengedukasi tentang sugar glider," katanya.

Dalam memproduksi konten, Siska sangat memperhatikan sensitivitas sugar glider terhadap cahaya dan kondisi lingkungan sekitar. Keunikan cara penanganan hewan tersebut seringkali memicu diskusi produktif di kolom komentar bersama para penonton.

"Karena keunikan atau perlakuan berbeda itu mendatangkan pertanyaan dari para penonton jadi disana kita bisa sharing lewat komentar dan lainnya," tuturnya.

Artikel terkait

Rekomendasi