Kesehatan Mental Remaja Memburuk Sejak Sebelum Pandemi COVID-19

Kesehatan Mental Remaja Memburuk Sejak Sebelum Pandemi COVID-19
Foto: Ilustrasi Kesehatan Mental Remaja Memburuk Sejak Sebelum Pandemi COVID-19.

Gangguan kesehatan mental pada usia muda ternyata telah menunjukkan tren kenaikan jauh sebelum kemunculan pandemi COVID-19. Seperti dilansir dari Medcom, para pakar mendeteksi lonjakan signifikan pada kondisi psikologis kelompok usia ini selama satu dekade terakhir.

Data dari para ahli kesehatan mengonfirmasi bahwa terdapat peningkatan hingga 40% terkait munculnya perasaan putus asa serta keinginan untuk mengakhiri hidup pada lini remaja. Situasi pandemi global memang memperparah keadaan, namun tekanan psikis ini sudah menjadi persoalan krusial sejak lama.

Selain imbas pembatasan aktivitas sosial dan disrupsi proses belajar di sekolah, faktor eksternal lain turut memicu kerentanan mental mereka. American Psychological Association (APA) mengidentifikasi beberapa pemicu, mulai dari pengaruh media sosial, paparan kekerasan massal, hingga dampak bencana alam.

Kondisi ini diperberat oleh isu perubahan iklim, dinamika polarisasi politik, serta fase pergolakan emosi yang lazim terjadi pada masa transisi anak-anak menuju remaja. Faktor lingkungan sekolah juga memegang peran besar dalam memicu stres.

Manajer senior inisiatif remaja dan dewasa muda di National Alliance on Mental Illness (NAMI), Jennifer Rothman, menuturkan bahwa beban akademis dan aksi perundungan berisiko tinggi memperparah kondisi psikologis remaja. Pola perundungan siber menjadi ancaman yang paling konstan karena tetap meneror korban di luar jam sekolah.

ÔÇ£Kami semakin sering melihat masalah kesehatan mental. Orang-orang semakin sadar akan tanda-tanda peringatan dan mencari bantuan. Semakin dini depresi dikenali, semakin baik hasilnya di masa depan,ÔÇØ kata Rothman.

Indikasi depresi pada kelompok usia muda kerap kali sulit terdeteksi secara kasat mata. Sebagian besar orang tua atau lingkungan terdekat sering keliru menganggap perubahan emosi tersebut hanya sebagai bentuk sensitivitas atau perubahan suasana hati biasa.

American Academy of Child and Adolescent Psychiatry merilis sejumlah indikator klinis yang patut diwaspadai jika terjadi pada remaja:

  • Mudah sedih dan sering menangis
  • Lebih gampang marah
  • Kehilangan minat pada hal-hal yang dulu disukai
  • Mulai menjauh dari teman atau kegiatan favorit
  • Nafsu makan berubah
  • Berat badan menurun
  • Tidur terlalu banyak atau justru sulit tidur
  • Mudah lelah dan kehilangan energi
  • Sering merasa gagal atau tidak berguna
  • Sulit fokus dan berkonsentrasi
  • Prestasi sekolah menurun
  • Muncul pikiran ingin mati atau bunuh diri

Manifestasi gangguan psikis ini tidak melulu berupa pergolakan emosi, melainkan bisa memicu keluhan somatis pada fisik. Beberapa remaja kerap mengeluhkan sakit kepala hingga nyeri lambung tanpa adanya penyebab medis yang jelas.

Kondisi yang tidak tertangani dengan baik berisiko mendorong mereka mencari pelarian instan ke zat-zat berbahaya. Langkah tersebut justru berpotensi memicu kerusakan yang lebih fatal pada sistem saraf dan memperburuk stabilitas mental mereka.

Kepekaan kolektif terhadap perubahan perilaku dan kebiasaan harian remaja menjadi kunci utama penanganan dini. Sinergi dukungan yang solid dari lingkungan keluarga, jaringan pertemanan, institusi pendidikan, hingga intervensi medis dari tenaga profesional sangat dibutuhkan.

Artikel terkait

Rekomendasi