Kerumunan Pemotor Tutup Jalan Protokol Sudirman-Thamrin Jakarta

Kerumunan Pemotor Tutup Jalan Protokol Sudirman-Thamrin Jakarta
Foto: Ilustrasi Kerumunan Pemotor Tutup Jalan Protokol Sudirman-Thamrin Jakarta.

Arus lalu lintas di kawasan Sudirman hingga Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, mengalami kemacetan akibat kerumunan pengendara sepeda motor pada Minggu (3/5/2026) dini hari sekitar pukul 01.00 WIB. Kondisi semrawut di jantung Ibu Kota tersebut viral setelah diunggah oleh konten kreator isu lingkungan dan lalu lintas, Ijoel.

Kepadatan kendaraan dilaporkan terkonsentrasi mulai dari titik MRT Bundaran HI hingga area Kedutaan Besar Jepang. Berdasarkan informasi yang dilansir dari Otomotif, kerumunan massa tersebut membuat akses bagi pengguna jalan lain terhambat di jalur utama Jakarta tersebut.

"Jadi semalam, dini hari sekitar pukul 01.00 WIB, saya melintas di kawasan Bundaran Senayan hingga Monas. Kebetulan memang sedang libur panjang, dan semakin ke sini kawasan SudirmanÔÇôThamrin seperti jadi arena nongkrong yang tidak teratur. Banyak pengendara motor yang saya lihat tidak jelas identitasnya," ujar Ijoel.

Ijoel yang saat itu sedang mengemudikan mobil mendapati banyaknya pelanggaran lalu lintas di lokasi kejadian. Ia melihat sejumlah pengendara tidak menggunakan alat pelindung kepala serta kendaraan yang tidak dilengkapi pelat nomor resmi.

"Kondisinya juga makin ramai, banyak yang nongkrong di trotoar, ada pengendara yang tidak memakai helm, tidak menggunakan pelat nomor, hingga knalpot bising. Semakin malam, situasinya justru makin semrawut," katanya.

Selain menutup badan jalan, terdengar suara knalpot bising yang mengindikasikan adanya aktivitas balap liar di lokasi. Ijoel menceritakan bahwa akses jalan sempat tersendat karena posisi motor yang menutup jalur pengendara lain.

"Saat saya lewat, jalan sudah tersendat bahkan cenderung macet. Dari sekitar MRT Bundaran HI memang sudah terlihat padat. Kebetulan saya menggunakan mobil, dan terdengar suara knalpot yang sangat bising. Di depan terlihat sejumlah pengendara motor seperti menutup jalan. Awalnya terdengar seperti ada yang ngebut, kemungkinan balap liar, karena suara knalpotnya kencang," jelasnya.

Upaya untuk menegur para pengendara agar membuka akses jalan tidak membuahkan hasil positif. Alih-alih membubarkan diri, para oknum pengendara tersebut justru memberikan respons negatif kepada warga yang melintas.

"Saya sempat mencoba mengingatkan agar tidak menutup jalan, tetapi malah dimarahi balik. Bahkan saya dibilang norak," kata Ijoel.

Setelah melewati kerumunan, Ijoel berinisiatif melapor kepada personel Polri dan TNI yang bersiaga di pos polisi Bundaran HI. Laporan tersebut direspons dengan tindakan pembubaran massa di lokasi kejadian oleh petugas keamanan.

"Setelah itu, saya mengambil jalur kanan untuk melanjutkan perjalanan ke arah Monas, lalu memutar balik ke pos polisi di Bundaran HI. Di sana ada anggota Polri dan TNI, kemudian saya berinisiatif melapor. Alhamdulillah mereka merespons dan mengajak saya ikut kembali ke lokasi," ungkapnya.

Ijoel menyoroti pentingnya menjaga ketertiban di kawasan protokol yang menjadi etalase negara tersebut. Pengawasan rutin dinilai mendesak agar fungsi jalan utama tidak beralih menjadi arena aktivitas ilegal pada malam hari.

"Faktanya, kawasan SudirmanÔÇôThamrin pada tengah malam seperti arena balap, padahal itu merupakan jalur utama Jakarta sekaligus etalase Indonesia," kata Ijoel.

Peningkatan frekuensi patroli gabungan menjadi rekomendasi utama untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali. Ijoel menyarankan adanya koordinasi lintas instansi guna memastikan keamanan dan kenyamanan di pusat Jakarta.

"Menurut saya, petugas perlu rutin melakukan patroli. Bisa melibatkan berbagai unsur, seperti Satpol PP, Dinas Perhubungan, TNI, dan Polri," katanya.

Evaluasi terhadap pengawasan keamanan di malam hari menjadi catatan penting bagi otoritas terkait. Hal ini dikarenakan patroli yang ada saat ini dianggap belum maksimal dalam menangani kesemrawutan lalu lintas.

"Memang sudah ada patroli, tetapi sejauh ini belum cukup, karena kondisi di lapangan justru makin semrawut. Jadi, patroli rutin masih kurang,ÔÇØ ungkap Ijoel.

Artikel terkait

Rekomendasi