Vitamin C memegang peranan krusial bagi sistem pertahanan tubuh manusia. Namun, fungsi nutrisi ini sebenarnya jauh lebih luas karena mencakup pembentukan kolagen, pemeliharaan kesehatan kulit, penguatan pembuluh darah, hingga akselerasi pemulihan luka.
Dilansir dari Detik Health, tubuh manusia secara alami tidak mampu memproduksi atau menyimpan cadangan vitamin C sendiri. Kondisi ini mengharuskan setiap individu untuk memenuhi asupannya secara rutin melalui konsumsi makanan harian atau suplemen pendukung.
Defisiensi atau kekurangan kadar nutrisi ini akan memicu munculnya berbagai sinyal dari tubuh. Jika pola makan dijaga dengan seimbang, kebutuhan vitamin C sebenarnya relatif mudah untuk dicukupi setiap harinya.
Berdasarkan data yang dikutip dari laman WebMD, terdapat perbedaan standar kebutuhan harian antara pria dan wanita. Wanita dewasa yang tidak dalam kondisi hamil atau menyusui memerlukan setidaknya 75 mg per hari.
Sementara itu, pria dewasa membutuhkan asupan yang sedikit lebih tinggi, yakni sebesar 90 mg setiap harinya. Pemenuhan angka ini dapat dilakukan dengan mengonsumsi setengah cangkir paprika merah mentah atau tiga perempat cangkir jus jeruk.
Pilihan lainnya adalah setengah cangkir brokoli matang yang mampu memasok setidaknya separuh dari total kebutuhan harian tubuh. Namun, ada kelompok tertentu yang memiliki risiko defisiensi lebih tinggi.
Kelompok berisiko tersebut meliputi individu dengan pola makan buruk, pasien ginjal yang rutin menjalani dialisis, pecandu alkohol, serta perokok aktif. Khusus bagi perokok, dibutuhkan tambahan dosis sebesar 35 mg per hari guna menetralisir kerusakan akibat radikal bebas rokok.
Gejala Fisik Saat Tubuh Kekurangan Vitamin C
Apabila asupan tidak terpenuhi dalam jangka panjang, gejala fisik biasanya mulai terlihat dalam kurun waktu sekitar tiga bulan. Salah satu tandanya adalah berat badan yang cenderung lebih mudah mengalami kenaikan.
Riset awal menunjukkan adanya korelasi antara rendahnya kadar vitamin C dengan penumpukan lemak tubuh, terutama pada area perut. Hal ini berkaitan dengan peran vitamin C dalam proses pembakaran lemak menjadi sumber energi.
Kondisi psikologis juga dapat terdampak, di mana seseorang menjadi lebih mudah merasa lelah dan sering 'cranky' atau mudah marah. Sebuah studi pada 141 pekerja kantor membuktikan bahwa pemberian vitamin C mampu mereduksi rasa lelah secara signifikan dalam waktu singkat.
Sistem imun yang melemah juga menjadi konsekuensi nyata dari defisiensi ini. Seseorang akan menjadi lebih rentan terserang penyakit dan memerlukan waktu pemulihan yang jauh lebih lama ketika jatuh sakit.
Dampak pada Kesehatan Kulit dan Organ Dalam
Vitamin C bertindak sebagai antioksidan yang menjaga minyak alami, protein, hingga DNA kulit dari paparan radikal bebas. Tanpa asupan yang cukup, kulit akan cenderung terasa kering dan lebih cepat mengalami keriput.
Kesehatan mulut juga menjadi indikator penting, di mana kekurangan nutrisi ini sering menyebabkan gusi mudah berdarah. Kolagen yang dibentuk dengan bantuan vitamin C sangat diperlukan untuk memperkuat struktur gigi dan jaringan gusi.
Dalam hal regenerasi jaringan, defisiensi vitamin C mengakibatkan luka pada kulit membutuhkan waktu penyembuhan yang lebih lama. Nutrisi ini membantu sel darah putih jenis neutrofil dalam memerangi infeksi di area luka.
Terakhir, kekurangan vitamin C dapat memperburuk gangguan penglihatan seperti degenerasi makula terkait usia (AMD). Pemenuhan nutrisi yang tepat juga dipercaya membantu pencegahan katarak, meskipun penelitian lebih mendalam masih terus dilakukan oleh para ahli.