Sistem perbankan akan mempercepat transmisi kenaikan BI Rate ke sektor riil sehingga membuat ruang ekspansi bisnis menjadi lebih terbatas pada Rabu (20/5/2026), dilansir dari Nasional.
Dampak langsung tersebut diungkapkan oleh Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto. Kebijakan ini juga memicu kenaikan biaya bunga di sistem keuangan dan berpotensi menahan target pertumbuhan kredit dua digit.
"Ini pasti terkena dampak langsung. Jadi secara praktis dari sisi ekspansi bisnis agak tertahan," ujar Myrdal Gunarto, Global Markets Economist Maybank Indonesia.
Perkembangan ekonomi nasional dinilai bakal sulit bergerak agresif jika nilai tukar rupiah terus bertahan di atas level Rp17.500 per dolar AS.
"Kalau rupiah terus di atas Rp 17.500, sebenarnya membuat perkembangan ekonomi kita agak berat untuk agresif, terutama dari sisi pertumbuhan kredit yang tadinya diharapkan bisa double digit," kata Myrdal Gunarto, Global Markets Economist Maybank Indonesia.
Myrdal menjelaskan bahwa arah kebijakan BI Rate mendatang sangat bergantung pada pergerakan nilai tukar rupiah, tekanan inflasi barang impor, perilaku pelaku pasar, dan persepsi global.
"Semua tergantung dari tekanan imported inflation, perilaku pelaku pasar, dan persepsi global yang akhirnya mempengaruhi nilai tukar rupiah," jelas Myrdal Gunarto, Global Markets Economist Maybank Indonesia.
Faktor eksternal seperti pergerakan harga minyak dunia di atas US$108 per barel saat ini terus memberikan tekanan pada pasar keuangan domestik.
"Kalau tekanan global makin kencang, harga minyak tinggi terus, rupiah bisa ikut tertekan. Itu yang akhirnya mempengaruhi arah BI rate ke depan," pungkas Myrdal Gunarto, Global Markets Economist Maybank Indonesia.