Kenaikan BI Rate diprediksi bakal memperlambat momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester II 2026 akibat adanya efek jeda waktu transmisi suku bunga ke sektor riil. Pengaruh kebijakan tersebut diperkirakan mulai menguat pada kuartal III 2026.
Tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi ini dipicu oleh lonjakan bunga kredit yang berdampak langsung pada penurunan daya beli masyarakat. Sektor properti, otomotif, dan usaha mikro kecil menengah (UMKM) menjadi bidang yang paling rentan terkena dampak negatif.
Kondisi dilematis ini disampaikan oleh pengamat ekonomi Rizal pada Kamis (21/5/2026) sebagaimana dilansir dari Nasional. Ia memproyeksikan dinamika perekonomian domestik akan menghadapi tantangan berat dalam beberapa bulan ke depan.
"Konsekuensinya, tekanan terhadap sektor riil akan mulai terasa di kuartal II dan cenderung lebih kuat di kuartal III karena transmisi suku bunga ke kredit, konsumsi rumah tangga, dan investasi biasanya memiliki time lag," ujar Rizal.
Rizal menjelaskan bahwa bunga kredit yang lebih tinggi menyebabkan konsumen menunda pembelian aset besar seperti rumah dan kendaraan. Di sisi lain, para pelaku UMKM dipaksa memikul beban biaya pinjaman yang jauh lebih mahal.
Perlambatan ini kian diperparah oleh kombinasi pelemahan nilai tukar rupiah, efisiensi anggaran kementerian/lembaga, serta pemangkasan stimulus fiskal. Salah satunya adalah pengurangan alokasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam APBN 2026 dari Rp 335 triliun menjadi Rp 268 triliun.
Rizal memproyeksikan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 masih mampu tumbuh di kisaran 5,1% hingga 5,3%. Namun, angka tersebut berisiko merosot ke kisaran 4,9% hingga 5,1% pada kuartal III jika konsumsi rumah tangga terus melemah.
"Artinya, tantangan terbesar saat ini bukan hanya menjaga stabilitas makro, tetapi memastikan kebijakan stabilisasi tidak terlalu menekan pertumbuhan ekonomi domestik," kata Rizal.
Menurut Rizal, Bank Indonesia saat ini menghadapi dilema besar antara menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan meredam inflasi barang impor dari ketidakpastian global. Kebijakan moneter yang ketat ini berisiko menekan ekonomi jika diterapkan terlalu lama.