Kenaikan BI Rate ke 525 Persen Berpotensi Menahan Ekspansi Usaha

Kenaikan BI Rate ke 525 Persen Berpotensi Menahan Ekspansi Usaha
Foto: Ilustrasi Kenaikan BI Rate ke 525 Persen Berpotensi Menahan Ekspansi Usaha.

Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate ke level 5,25 persen berpotensi menghambat aktivitas ekspansi dunia usaha di dalam negeri akibat pembengkakan biaya peminjaman. Kebijakan moneter tersebut berdampak langsung pada pengajuan kredit baru maupun pinjaman berjalan yang menggunakan skema suku bunga mengambang, seperti dilansir dari Keuangan pada Rabu (20/5/2026).

Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menjelaskan bahwa pengetatan moneter ini memicu kenaikan beban bunga meskipun pemerintah telah menyiapkan berbagai insentif makroprudensial.

"Ini pasti terkena dampak langsung. Jadi secara praktis dari sisi ekspansi bisnis agak tertahan, walaupun ada insentif makroprudensial atau keterbukaan dari suku bunga dasar kredit, tapi pada dasarnya kenaikan BI rate ini akan memicu kenaikan ongkos bunga di sistem keuangan," ujar Myrdal Gunarto, Global Markets Economist Maybank Indonesia.

Situasi ini diproyeksikan bakal menekan pertumbuhan ekonomi nasional jika pelemahan mata uang garuda terus bertahan di atas level Rp 17.500 per dolar AS dalam jangka panjang. Kondisi eksternal tersebut memicu revisi target penyaluran dana perbankan yang semula dipatok mampu mencapai angka dua digit.

"Kalau rupiah terus di atas Rp 17.500, sebenarnya membuat perkembangan ekonomi kita agak berat untuk agresif, terutama dari sisi pertumbuhan kredit yang tadinya diharapkan bisa double digit, tapi kelihatannya agak sulit," kata Myrdal Gunarto, Global Markets Economist Maybank Indonesia.

Formulasi arah suku bunga acuan ke depan diprediksi terbagi dalam tiga skenario yang sepenuhnya bergantung pada fluktuasi nilai tukar domestik. Bank sentral diperkirakan mempertahankan BI Rate di angka 5,25 persen jika rupiah stabil pada rentang Rp 17.400 hingga Rp 17.799, namun berpeluang menaikkannya lagi jika kurs menembus Rp 17.800 per dolar AS. Sebaliknya, pelonggaran moneter ke level 5 persen hingga 4,5 persen baru akan terbuka jika rupiah menguat tajam ke kisaran Rp 17.000 hingga Rp 16.300 per dolar AS.

"Jadi ada beberapa skenario yang dihadapi. Semua tergantung dari tekanan imported inflation, perilaku pelaku pasar, dan persepsi global yang akhirnya mempengaruhi nilai tukar rupiah," jelas Myrdal Gunarto, Global Markets Economist Maybank Indonesia.

Di sisi lain, pergerakan inflasi dalam negeri diperkirakan tetap aman selama harga komoditas energi dan bahan bakar minyak disubsidi secara konsisten oleh pemerintah. Faktor risiko terbesar justru datang dari pergerakan harga minyak mentah dunia yang saat ini masih tertahan di atas US$ 108 per barel.

Penurunan harga minyak dunia ke level US$ 70 sampai US$ 80 per barel dinilai bisa meredakan sentimen negatif global sekaligus menguatkan nilai tukar rupiah. Namun, jika harga energi global tersebut melonjak melebihi US$ 128 per barel, rupiah berisiko terjatuh hingga ke atas Rp 18.000 per dolar AS.

"Kalau tekanan global makin kencang, harga minyak tinggi terus, rupiah bisa ikut tertekan. Itu yang akhirnya mempengaruhi arah BI rate ke depan," pungkas Myrdal Gunarto, Global Markets Economist Maybank Indonesia.

Artikel terkait

Rekomendasi