Kemenperin Akselerasi Ekosistem Kendaraan Listrik Nasional Lewat Investasi Triliunan

Kemenperin Akselerasi Ekosistem Kendaraan Listrik Nasional Lewat Investasi Triliunan
Foto: Ilustrasi Kemenperin Akselerasi Ekosistem Kendaraan Listrik Nasional Lewat Investasi Triliunan.

Kementerian Perindustrian tengah mengupayakan percepatan pembentukan ekosistem industri Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) di tingkat nasional. Strategi ini diambil untuk meningkatkan daya saing manufaktur sekaligus mendukung transisi ekonomi hijau di Indonesia.

Sektor otomotif dinilai memiliki pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi negara. Dilansir dari Suara, Setia Diarta selaku Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kemenperin menekankan pentingnya manfaat transformasi ini bagi industri lokal.

ÔÇ£Karena itu, transformasi menuju kendaraan listrik harus dipastikan berjalan baik dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi industri dalam negeri,ÔÇØ ujar Setia Diarta.

Data terbaru dari Kemenperin menunjukkan bahwa saat ini telah beroperasi 14 perusahaan perakitan mobil listrik yang memiliki kapasitas produksi tahunan sebesar 409.860 unit. Sektor ini juga didukung oleh 68 perusahaan sepeda motor listrik dan sembilan perusahaan bus listrik.

Hingga Maret 2026, total investasi yang terserap di sektor KBLBB telah menembus angka Rp25,674 triliun. Sejalan dengan itu, populasi kendaraan listrik di tanah air tercatat mencapai 358.205 unit, yang terdiri dari 236.451 motor listrik dan 119.638 mobil penumpang.

Dalam lima tahun terakhir, sektor ini menunjukkan performa luar biasa dengan pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) yang berada di atas 140 persen. Setia Diarta melihat hal ini sebagai sinyal positif terhadap perubahan perilaku konsumen di Indonesia.

ÔÇ£Terjadi perubahan preferensi konsumen. Masyarakat mulai memilih kendaraan yang lebih hemat energi dan ramah lingkungan. Ini menjadi sinyal positif bagi transformasi industri otomotif nasional,ÔÇØ ungkap Setia Diarta.

Pemerintah juga memberikan perhatian serius pada optimalisasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Berdasarkan peta jalan industri, batas minimal TKDN dipatok sebesar 40 persen hingga akhir 2026, kemudian akan ditingkatkan secara signifikan menjadi 80 persen pada 2030.

Langkah ini bertujuan memperkuat rantai pasok komponen utama, terutama baterai, dari sektor hulu hingga hilir. Indonesia dipandang memiliki fundamental yang kuat untuk menjadi pusat investasi global di bidang produksi baterai kendaraan listrik.

Disrupsi Pasar dan Dominasi Mobil Listrik

Kukuh Kumara selaku Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyebutkan bahwa industri otomotif sedang mengalami pergeseran struktural. Penggunaan mesin konvensional atau Internal Combustion Engine (ICE) perlahan mulai terkikis oleh teknologi multi-powertrain.

ÔÇ£Buktinya, penjualan mobil bermesin konvensional terus menurun. Sebaliknya, mobil elektrifikasi meningkat,ÔÇØ kata Kukuh Kumara.

Fenomena ini terlihat dari porsi pasar mobil listrik murni atau Battery Electric Vehicle (BEV) yang mencapai 15,9 persen per Maret 2026. Angka tersebut melampaui raihan mobil hybrid yang tercatat sebesar 8,1 persen.

ÔÇ£Pertanyaannya sekarang bukan lagi soal apakah disrupsi BEV terus berlanjut, melainkan apakah ICE akan kena elektrifikasi juga?ÔÇØ ujar Kukuh Kumara.

Artikel terkait

Rekomendasi