Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyelenggarakan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 jenjang SMP sederajat secara nasional mulai Senin (6/4/2026) hingga Kamis (16/4/2026). Pelaksanaan ujian berbasis komputer ini dibagi menjadi beberapa sesi guna mengakomodasi jumlah peserta yang besar, seperti dilansir dari Edukasi.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti memantau langsung jalannya ujian tersebut di SMPN 2 Curug, Kabupaten Tangerang, Banten. Langkah pembagian jadwal ini diambil untuk memastikan kelancaran teknis di lapangan.
"Nanti akan ada beberapa shift karena memang pelaksanaannya melibatkan banyak murid," kata Mu'ti.
Pemerintah mencatat tingkat partisipasi yang sangat tinggi pada pelaksanaan ujian tahun ini. Kepala Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikdasmen Toni Toharudin menyampaikan bahwa sebagian besar siswa telah mengikuti ujian tersebut.
"Pokoknya 98 persen dari populasi," ujar Toni.
Meskipun mayoritas siswa hadir, instansi terkait mencatat masih ada sebagian kecil peserta yang belum mengikuti ujian. Pihak kementerian masih melakukan pendataan lebih lanjut mengenai asal sekolah para siswa tersebut.
"Belum kita deteksi sekolah negeri atau swasta," jelas Toni.
Toni kemudian menanggapi keluhan siswa mengenai alokasi waktu pengerjaan yang dinilai terlalu singkat, khususnya pada mata pelajaran matematika. Menurutnya, durasi yang disediakan sudah melalui perhitungan yang matang.
"Waktu juga kami sudah perhitungan dengan baik, 75 menit pada hari kemarin untuk mengerjakan matematika dan numerasi," kata Toni.
Perbedaan bentuk soal antara masa simulasi dan ujian asli juga memicu respons dari pihak BSKAP. Toni menegaskan bahwa variasi soal tersebut dirancang demi menguji kedalaman berpikir para peserta.
"Saya kira soal TKA ini dibuat tidak dibuat untuk menjebak, tetapi kita untuk mengungkap bagaimana kemampuan berpikir siswa ini yang lebih mendalam," kata Toni.
Pihak kementerian mengklaim telah menguji seluruh instrumen soal sebelum diujikan kepada para siswa. Berdasarkan landasan akademis tersebut, soal-soal yang disajikan dipastikan telah memenuhi standar mutu yang ditetapkan.
"Jadi secara teori kami sudah melalui proses progres yang akademis, menguji soal itu dan lain-lain. Dan pada akhirnya memang selalu terjadi keluhan seperti itu. Tetapi pada prinsipnya kami ingin mengukur yang tadi," ujarnya.
Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen Rahmawati memberikan rincian lebih detail mengenai struktur pembobotan materi ujian matematika. Durasi ujian ditentukan berdasarkan kombinasi tingkat kesulitan soal.
"Nah dari kombinasi tersebut, kami menghitung berapa biasanya ketika kami menguji coba soal untuk menyelesaikan soal-soal knowing waktunya, berapa untuk yang applying, berapa untuk yang reasoning, dan itulah yang pernah menjadi formula 75 menit," ujar Rahmawati.
Pembatasan waktu pengerjaan ujian juga berfungsi sebagai instrumen pengawasan untuk mencegah tindakan kecurangan di dalam ruang kelas. Pihak panitia mengantisipasi potensi pelanggaran tata tertib jika waktu pengerjaan terlalu lama.
"Jangan-jangan nanti mau dipakai buat kesempatan moto-moto, kesempatan untuk bertanya, kerjasama, itu juga salah satu hal yang kami hindari," tuturnya.
Berdasarkan data sistem pemantauan digital kementerian, tidak semua siswa menghabiskan seluruh waktu yang disediakan. Evaluasi berkala terhadap catatan waktu pengerjaan akan terus dilakukan pascaujian.
"Dan kami akan selalu menelaah log file kami untuk mengetahui secara ideal sebenarnya berapa waktu yang dibutuhkan oleh murid-murid untuk menyelesaikan semuanya. Meskipun semuanya sudah kami lakukan melalui data uji coba," jelas Rahmawati.
Mengenai keluhan tentang tingkat kesulitan soal matematika, Rahmawati menyebutkan adanya pergantian konteks masalah. Perubahan dari contoh barang sehari-hari menjadi visualisasi spasial membuat sebagian siswa merasa kesulitan.
"Kalau di simulasi mungkin yang kita tanyakan adalah kombinasi harga dari X dan Y, dimana X dan Y itu adalah sebuah barang, misalnya alat tulis," kata Rahmawati.
Pemerintah menggunakan variasi tema yang lebih luas agar siswa mampu menerapkan konsep matematika pada studi kasus yang berbeda. Model pendekatan kontekstual ini akan terus dievaluasi demi perbaikan sistem pengajaran ke depan.
"Tetapi ketika di TKA, kami menggunakan masalah yang nuansanya sudah bukan tentang harga barang alat tulis lagi, tapi tentang misalnya bagaimana perbandingan antara besaran suatu wilayah A dengan wilayah B," lanjut dia.
Materi ujian dipastikan tetap mengacu pada kisi-kisi simulasi resmi yang telah didistribusikan sebelumnya. Pihak pusat asesmen merekomendasikan adanya adaptasi metode pembelajaran di sekolah agar siswa lebih siap menghadapi variasi soal dunia nyata.
"Nah mungkin pembiasaan untuk menggunakan konsep matematika di dalam beragam konteks masalah dunia nyata, itu yang mungkin perlu lebih didorong di dalam pembelajaran sehingga siswa tidak kaget dan tidak terkejut," jelas Rahmawati.
Sejumlah siswa yang mengikuti ujian menyampaikan dinamika emosional dan kendala teknis yang mereka hadapi selama proses evaluasi berlangsung. Siswa SMPN 2 Curug Rafli L Arzaq mengaku sempat merasa cemas akibat perbincangan di media sosial mengenai tingkat kesulitan soal.
"Grogi sama takut saya. Tapi dari semalem saya tekanin bahwa rasa takut itu harus jadi dorongan buat belajar," kata Rafli.
Kekhawatiran tersebut muncul karena banyaknya ulasan negatif mengenai ujian ini di platform digital. Hal itu memengaruhi kesiapan mentalnya sebelum memasuki ruang ujian.
"Karena saya sih lebih ke vibes aja ya. Karena orang-orang bilang TKA wah gitu soalnya menakutkan. Jadi saya ikut takut aja gitu," ujarnya.
Meskipun demikian, ia tetap memanfaatkan momentum ini untuk belajar mandiri demi mengejar target masuk sekolah lanjutan tingkat atas. Nilai dari ujian ini rencananya akan digunakan untuk pendaftaran jalur prestasi.
"Buat daftar SMA saya. Ke SMA negeri gitu," ujarnya.
Pihak sekolah dilaporkan telah memfasilitasi para siswa dengan program bimbingan belajar tambahan sebelum masa ujian dimulai. Program tersebut difokuskan pada pengulangan materi pelajaran dari kelas terdahulu.
"Persiapan dari sekolah sih paling mengulas materi yang kelas 7 sama kelas 8 gitu," pungkas Rafli.
Siswa lain dari sekolah yang sama, Muhamah Revan, membenarkan bahwa materi matematika yang diujikan memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Karakteristik soal yang panjang membutuhkan waktu pengamatan yang lebih lama.
"Secara keseluruhan sih lumayan susah," kata Revan.
Meskipun menghadapi kendala pada tingkat kesulitan materi, ia tetap menargetkan perolehan hasil yang optimal. Nilai tersebut diproyeksikan untuk mendukung proses kelanjutan studinya.
"Kayaknya kecil (nilainya), 80 mungkin," ujarnya.
Siswa lainnya, Andrea, turut menyoroti keterbatasan waktu pengerjaan sebagai tantangan utama. Penguasaan rumus bangun ruang menjadi kendala terbesar yang ditemui selama ujian berlangsung.
"Kalau menurut aku sih lumayan, susah, cuman aman-aman aja sih (pelaksanaan TKA)," tutur Andrea.
Kendati demikian, situasi di ruang ujian secara keseluruhan dilaporkan tetap kondusif hingga seluruh sesi berakhir. Seluruh siswa dapat menyelesaikan pengerjaan lembar ujian sesuai jadwal yang ditetapkan.
"Aman-aman aja," ucapnya.
Sebagai masukan bagi rekan sejawatnya yang belum menempuh ujian, ia menekankan pentingnya menjaga ketenangan mental. Ketenangan berpikir dinilai sangat memengaruhi daya ingat terhadap rumus-rumus pelajaran.
"Kalau misalnya grogi pasti matematika apalagi bakal lupa rumus-rumusnya. Jadi santai aja," pungkas Andrea.