Kementerian Perdagangan menegaskan komitmen untuk menjaga kemitraan strategis dengan Amerika Serikat karena kontribusinya yang besar terhadap surplus perdagangan nasional. Penegasan tersebut disampaikan Menteri Perdagangan Budi Santoso dalam rapat koordinasi nasional Kadin 2026 di Jakarta pada Kamis (30/4/2026).
Dilansir dari Ekonomi, realisasi ekspor Indonesia ke Amerika Serikat mencapai US$30,9 miliar pada tahun lalu. Nilai tersebut menghasilkan surplus perdagangan sebesar US$18,11 miliar, atau menyumbang sekitar 11 persen dari akumulasi ekspor nasional secara keseluruhan.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menjelaskan bahwa meskipun China menempati posisi pertama sebagai tujuan ekspor, Amerika Serikat memberikan surplus terbesar bagi Indonesia. Hal ini menjadi alasan kuat bagi pemerintah untuk terus mengupayakan kerja sama bilateral yang lebih formal.
"Pasar yang besar ini enggak mungkin kita tinggalkan. Makanya kita tetap harus mempunyai perjanjian dagang dengan Amerika," kata Budi Santoso, Menteri Perdagangan.
Budi memberikan catatan bahwa proses negosiasi perdagangan dengan Amerika Serikat melalui Trade and Investment Framework Agreement (TIFA) telah berjalan sejak 1996. Namun, selama tiga dekade terakhir, kesepakatan tersebut masih belum menunjukkan hasil yang tuntas.
"[Tahun] 96 sampai sekarang, berarti 30 tahun Pak kita bikin perjanjian dagang dengan Amerika tidak pernah selesai. Selesai dalam waktu enggak sampai setahun itu kemudian setelah ada ART [Agreements on Reciprocal Trade/ART]," ujarnya Budi Santoso, Menteri Perdagangan.
Akses pasar ke Amerika Serikat dinilai krusial karena didominasi oleh produk industri manufaktur padat karya. Sektor-sektor seperti tekstil, pakaian jadi, hingga alas kaki sangat bergantung pada keberlanjutan hubungan dagang ini untuk menopang kinerja industri dalam negeri.
Sejalan dengan pemerintah, Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie menganggap posisi Amerika Serikat sangat vital bagi pelaku usaha. Ia menekankan perlunya menjaga komunikasi yang baik dengan mitra dagang yang memberikan keuntungan besar bagi negara.
"Karena Amerika walaupun nomor dua, surplusnya itu nomor satu. Jadi istilahnya kalau kita berusaha ada klien yang seperti itu ya kita mesti dengarkan, suka atau tidak suka," pungkas Anindya Novyan Bakrie, Ketua Umum Kadin Indonesia.