Keluhan Pelaku UMKM Terkait Tingginya Potongan Biaya Platform Belanja Daring

Keluhan Pelaku UMKM Terkait Tingginya Potongan Biaya Platform Belanja Daring
Foto: Ilustrasi Keluhan Pelaku UMKM Terkait Tingginya Potongan Biaya Platform Belanja Daring.

FENOMENA keluhan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta para penjual (seller) di platform belanja daring kembali memicu diskusi hangat di media sosial. Isu ini mencuat setelah sebuah unggahan viral memperlihatkan simulasi pemotongan pendapatan yang dinilai sangat membebani para pelaku usaha kecil.

Dalam simulasi tersebut, terungkap bahwa penjualan produk seharga Rp50.000 hanya menyisakan pendapatan bersih sekitar Rp28.000 bagi penjual. Penurunan drastis ini disebabkan oleh akumulasi berbagai biaya platform yang harus ditanggung oleh seller agar tetap kompetitif di pasar digital.

Alarm Serius Keberlangsungan UMKM

Menanggapi keresahan tersebut, Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi PAN, Arizal Tom Liwafa, menilai kondisi ini sebagai alarm serius bagi ekosistem ekonomi digital di Indonesia. Menurutnya, meskipun marketplace berperan besar dalam memperluas jangkauan pasar, struktur biaya saat ini justru membuat pelaku usaha kecil sulit berkembang.

MI/HO--Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi PAN Arizal Tom Liwafa

ÔÇ£Marketplace memang membantu UMKM berkembang, tapi jangan sampai ekosistemnya justru membuat penjual kecil sulit bernapas. Banyak seller saat ini omzetnya naik, tapi profitnya makin tipis,ÔÇØ ujar Tom Liwafa dalam keterangan resminya.

Berikut adalah gambaran kasar simulasi pemotongan biaya yang menjadi sorotan para pelaku usaha:

| Komponen Biaya | Keterangan |

| -------------------------- | --------------------------------- |

| Harga Jual Produk | Rp50.000 |

| Potongan Platform | Biaya Admin, Gratis Ongkir, Promo |

| Biaya Pemasaran Tambahan | Affiliate dan Iklan Internal |

| Estimasi Pendapatan Bersih | ┬▒ Rp28.000 |

Dilema Algoritma dan Perang Harga

Tom Liwafa menyoroti posisi dilematis yang dihadapi UMKM. Untuk mendapatkan visibilitas dalam algoritma marketplace, penjual seolah dipaksa mengikuti berbagai program promosi, mulai dari voucer, gratis ongkir, hingga layanan afiliasi. Jika tidak ikut, produk mereka terancam tenggelam dan tidak terlihat oleh calon pembeli.

ÔÇ£Seller dipaksa ikut perang harga, iklan, dan affiliate, sementara di sisi lain biaya operasional dan daya beli masyarakat juga sedang tertekan. Kalau kondisi ini terus dibiarkan, hanya brand besar dengan modal kuat yang akan bertahan,ÔÇØ tambah legislator asal Dapil Jawa Timur I tersebut.

Unggahan Tom Liwafa di media sosial ini pun mendapat respons luas, termasuk dari praktisi UMKM ternama seperti Renaldy Pujiansyah, yang mengonfirmasi bahwa tekanan biaya ini memang nyata dirasakan di lapangan.

Mendorong Evaluasi Pemerintah

Sebagai anggota DPR yang membidangi perindustrian dan UMKM, Tom Liwafa mendesak pemerintah untuk segera mengevaluasi keseimbangan ekosistem perdagangan digital. Ia menekankan pentingnya perlindungan bagi UMKM lokal sebagai tulang punggung ekonomi nasional.

Ia mengusulkan adanya dialog terbuka yang melibatkan tiga pihak utama: pemerintah, pengelola marketplace, dan komunitas seller. Tujuannya adalah untuk merumuskan struktur biaya yang lebih adil dan transparan.

ÔÇ£UMKM Indonesia bukan sekadar angka transaksi. Mereka adalah jutaan keluarga yang hidup dari perdagangan digital. Jangan sampai era digital justru membuat pelaku usaha kecil kehilangan ruang untuk bertahan,ÔÇØ pungkasnya. (Z-1)

- Indonesia Dorong Transformasi UMKM Digital di Forum APEC SMEWGM 2026 28/5/2026 19:40 Untuk mendukung langkah digitalisasi tersebut, Kementerian UMKM menghadirkan SAPA UMKM sebagai platform sistem data tunggal yang mengintegrasikan berbagai layanan

- Dari Dapur Rumahan, BakerÔÇÖs Gram Meracik Warisan Rasa Menjadi Kafe Modern 28/5/2026 10:40 Perjalanan sebuah usaha sering kali bermula dari tradisi keluarga yang diwariskan turun-temurun.

- Pernah Ditipu di Awal Bisnis, Naeka Kini Berhasil Masuk Pasar Global 27/5/2026 08:18 Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah saat mengikuti Bazar UMKM Gerai Nusantara di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta pada 2023 lalu.

- Menimbang Mode Bertahan Pengusaha Indonesia 26/5/2026 05:05 SUASANA kebatinan sebagian besar pelaku ekonomi dan bisnis Indonesia saat ini barangkali sedang berada dalam fase harap-harap cemas.

- Kajian LAPI ITB: Dampak Ekonomi Infrastruktur Digital di Indonesia 25/5/2026 20:31 PT LAPI ITB merilis kajian dampak sosial-ekonomi konektivitas digital Telkomsel, mulai dari pertumbuhan PDRB hingga pemberdayaan UMKM dan wilayah 3T.

- Legislator Dukung Menteri UMKM Tindak Marketplace yang Tingkatkan Biaya Admin 16/5/2026 14:51 ANGGOTA Komisi VII DPR RI Gandung Pardiman mendukung penuh langkah Menteri Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Maman Abdurahman untuk menindak marketplace yang menaikkan biaya admin.

- Sukses Berkarya Sebelum 30: Konsisten Bangun Usaha, Finetrus Tekun Kembangkan Usaha Sprei Lokal dan Perluas Jangkauan di Shopee 16/1/2026 14:00 Berawal dari usaha rumahan, Finetrus sukses menjadi UMKM perlengkapan tidur favorit di Shopee. Fokus pada kualitas bedding, Finetrus tumbuh pesat lewat inovasi dan digitalisasi.

- Mantapkan Langkah Menuju Pasar Internasional sebagai Marketplace Gaming Terdepan 27/11/2025 21:50 ITEMKU mengumumkan langkah strategis untuk memperluas jangkauan bisnis ke pasar internasional.

- Apindo Respons Purbaya Soal Barang Impor Rp50 Juta Jadi Rp117 Ribu 13/11/2025 14:29 Apindo menanggapi temuan ada barang impor dengan harga yang tercantum US$7 (Rp117.000) tapi dijual di marketplace mencapai Rp40 juta-Rp50 juta.

- Tren Belanja Daring tidak Lagi Terpusat di Marketplace 17/10/2025 14:33 Lebih dari 58% pengguna TikTok menggunakan platform tersebut untuk mencari ide produk, dan 71% di antaranya membeli produk yang muncul melalui feed mereka.

Artikel terkait

Rekomendasi