Publik Keliru Baca Label Nutrisi Picu Risiko Obesitas dan Diabetes

Publik Keliru Baca Label Nutrisi Picu Risiko Obesitas dan Diabetes
Foto: Ilustrasi Publik Keliru Baca Label Nutrisi Picu Risiko Obesitas dan Diabetes.

Konsumen di Jakarta diingatkan untuk lebih teliti dalam mencermati label informasi nilai gizi pada kemasan pangan guna menghindari lonjakan kalori yang tidak disadari pada Selasa (21/4/2026). Kesalahan penafsiran angka kalori sering terjadi karena pembaca hanya fokus pada angka total tanpa memperhatikan jumlah sajian per kemasan.

Kekeliruan perhitungan energi ini dilaporkan dapat memicu kegemukan hingga penyakit kronis akibat akumulasi asupan yang tidak terkontrol. Fenomena salah baca tersebut dilansir dari Detik Health yang menyoroti jebakan istilah takaran saji bagi masyarakat awam.

Data menunjukkan bahwa banyak orang menganggap satu kemasan makanan ringan setara dengan satu porsi sajian tunggal. Padahal, informasi nilai gizi yang tertera sering kali hanya merujuk pada satu porsi, sementara satu kemasan bisa berisi hingga lima sajian atau lebih.

Terdapat tiga kesalahan umum yang diidentifikasi dalam perilaku konsumen saat memeriksa label nutrisi. Pertama, masyarakat cenderung hanya melihat angka kalori sekilas, tidak memeriksa total jumlah sajian dalam satu paket, serta memiliki persepsi keliru bahwa seluruh isi kemasan adalah satu kali makan.

Ancaman dari konsumsi gula yang berlebih dalam pola makan sehari-hari dianggap sangat berbahaya jika terus dinormalisasi oleh publik. Kondisi tersebut dapat menjadi pemicu utama munculnya penyakit diabetes yang dikenal sebagai induk dari segala penyakit atau mother of all diseases.

"per sajian" kata penulis artikel gaya hidup lulusan IPB University.

Penegasan mengenai pentingnya ketelitian ini diharapkan dapat menekan angka obesitas di tengah maraknya produk pangan olahan. Kesadaran terhadap detail kecil pada label nutrisi menjadi langkah preventif utama dalam menjaga kesehatan jangka panjang.

"per kemasan" ujar sarjana peternakan tersebut.

Satu kemasan produk makanan yang dihitung sebagai lima sajian sering kali mengecoh konsumen yang merasa hanya mengonsumsi 50 kkal. Padahal, jika seluruh isi kemasan dihabiskan, total energi yang masuk ke tubuh menjadi jauh lebih besar dari angka yang terlihat di label awal.

"takaran saji" kata peserta program Maganghub Kementerian Ketenagakerjaan itu.

Edukasi mengenai literasi nutrisi ini terus didorong untuk mencegah dampak fatal bagi kesehatan masyarakat di masa depan. Pengawasan mandiri terhadap asupan gula, garam, dan lemak menjadi kunci utama dalam menghindari risiko penyakit tidak menular.

Artikel terkait

Rekomendasi