DPR Soroti Maraknya Temuan Kecurangan dalam UTBK SNBT 2026

DPR Soroti Maraknya Temuan Kecurangan dalam UTBK SNBT 2026
Foto: Ilustrasi DPR Soroti Maraknya Temuan Kecurangan dalam UTBK SNBT 2026.

Anggota Komisi X DPR Muhammad Hilman Mufidi menyoroti maraknya temuan praktik kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) 2026 yang dinilai dapat merusak sistem pendidikan nasional. Pernyataan ini muncul menyusul laporan adanya upaya penggunaan alat bantu hingga joki pada hari pertama ujian, Selasa (21/4/2026), di sejumlah perguruan tinggi.

Pelanggaran aturan tersebut dianggap sebagai ancaman serius terhadap integritas seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Dilansir dari Nasional, Hilman menegaskan bahwa pengetatan pengawasan sangat krusial dilakukan untuk mencegah terulangnya modus serupa pada jadwal ujian hari berikutnya demi menjaga kualitas lulusan masa depan.

"Kecurangan dalam SNBT bukan hanya pelanggaran aturan, tetapi bentuk pengkhianatan terhadap nilai kejujuran dalam pendidikan. Jika dibiarkan, praktik ini akan terus berulang dan merusak sistem secara keseluruhan," ujar Hilman, Anggota Komisi X DPR.

Politisi tersebut juga mendesak pemberian sanksi tegas kepada setiap peserta yang terbukti melanggar ketentuan. Menurutnya, tindakan preventif dan korektif harus berjalan beriringan guna membentuk karakter generasi bangsa yang jujur dan kompetitif.

"Kami mengecam keras segala bentuk kecurangan dalam pelaksanaan UTBK SNBT. Ujian ini bukan sekadar seleksi, tetapi pintu masuk menuju dunia pendidikan tinggi yang harus dijaga integritasnya. Jangan pernah mencoba berbuat curang, karena dampaknya bukan hanya pada hasil ujian, tetapi juga pada pembentukan karakter," tegas Hilman, Anggota Komisi X DPR.

Kekhawatiran Hilman merujuk pada kemungkinan mahasiswa mengabaikan proses belajar dan menghalalkan segala cara demi nilai akademik. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan yang didasari kejujuran merupakan fondasi utama bagi masa depan setiap individu.

"Keberhasilan yang diraih dengan kejujuran akan jauh lebih bermakna dan menjadi fondasi kuat untuk masa depan. Jangan gadaikan masa depan hanya karena ingin lulus dengan cara curang," ujar Hilman, Anggota Komisi X DPR.

Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) mengonfirmasi adanya indikasi penggunaan alat bantu komunikasi yang disembunyikan di balik pakaian peserta. Temuan ini dilaporkan terjadi di Pusat UTBK Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) pada sesi pagi hari pertama.

"Pada pagi hari ini sampai dengan pukul 09.00 WIB kita telah mendapatkan informasi berbagai macam kecurangan yang coba dilakukan peserta UTBK di beberapa Pusat UTBK," ucap Eduart Wolok, Ketua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB 2026.

Modus operandi yang dilakukan peserta cukup beragam, mulai dari pemanfaatan teknologi hingga upaya mengelabui petugas pengawas. Penyelidikan lapangan berhasil mendeteksi perangkat elektronik yang sengaja dibawa masuk ke dalam ruang ujian secara ilegal.

"Yang pertama kita dapatkan kecurangan di Pusat UTBK Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar). Kecurangannya berupa indikasi ingin menggunakan alat bantu. Jadi alat bantu ini disembunyikan di pakaian dan sebagainya dan alhamdulillah bisa kita deteksi," sambung Eduart Wolok, Ketua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB 2026.

Selain penggunaan perangkat, panitia juga menemukan praktik perjokian di lokasi yang sama. Modus ini melibatkan peserta yang menggunakan identitas berbeda meskipun orang yang bersangkutan tercatat pernah mengikuti ujian pada periode tahun sebelumnya.

"Ditemukan upaya perjokian dengan mengganti peserta. Jadi sengaja dia, orang yang sama mengikuti UTBK 2025, itu ikut lagi di 2026 dengan nama yang berbeda untuk nama pesertanya. Jadi orangnya sama ikut ujian 2025 dan 2026 untuk dua nama. Jadi udah pasti merupakan joki yang mengganti," ungkap Eduart Wolok, Ketua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB 2026.

Selain di Unsulbar, laporan kecurangan juga teridentifikasi di sejumlah kampus besar lainnya. Wilayah yang mencatatkan temuan serupa meliputi Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Airlangga (Unair), serta UPN Veteran Jawa Timur.

Artikel terkait

Rekomendasi