Pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK SNBT) 2026 pada hari pertama, Rabu (22/4/2026), diwarnai temuan berbagai praktik kecurangan oleh sejumlah peserta. Aksi tidak terpuji tersebut terdeteksi di Universitas Diponegoro (Undip), UPN Veteran Jawa Timur, hingga Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar).
Metode yang digunakan para peserta untuk mencurangi ujian tersebut beragam, mulai dari memalsukan dokumen tingkat tinggi hingga menyembunyikan alat pendengar di telinga. Dilansir dari Detik Health, beberapa peserta bahkan menggunakan jasa joki atau berpura-pura datang terlambat dengan alasan tergesa-gesa guna mengelabui petugas pengawas.
Fenomena perilaku menyimpang ini mendapat perhatian dari praktisi kesehatan mental mengenai motif di balik tindakan tersebut. Psikolog klinis Anastasia Sari Dewi memaparkan bahwa pemicu seseorang berbuat curang dapat berasal dari faktor internal maupun tekanan eksternal dari lingkungan sekitar.
"Pertama ya, karena secara value dia sendiri juga merasa kecurangan itu bukan sebuah kesalahan. Jadi memang terbiasa untuk melakukan pelanggaran demi mencapai yang diinginkan. Jadi norma benar salahnya juga kurang kuat secara prinsip value," kata Anastasia.
Kurangnya rasa percaya diri terhadap kemampuan akademik pribadi dinilai menjadi landasan kedua mengapa peserta nekat menghalalkan segala cara demi meraih skor maksimal. Anastasia menjelaskan bahwa kondisi ini mendorong individu menempuh jalur pintas yang tidak semestinya dilakukan dalam sebuah kompetisi resmi.
"Kedua, juga bisa dikarenakan orang tersebut kurang percaya diri dengan kemampuannya, sehingga dia menggunakan berbagai cara supaya hasilnya bisa maksimal, meskipun itu menghalalkan berbagai cara yang tidak tepat," lanjut Anastasia.
Munculnya inspirasi untuk berbuat culas juga disebut bisa dipicu oleh pengamatan terhadap orang lain yang melakukan hal serupa demi mendapatkan hasil terbaik. Selain itu, terdapat faktor desakan kebutuhan atau konsekuensi tertentu yang membayangi peserta jika mereka gagal mencapai target nilai yang ditentukan.
"Bisa juga yang keempat dikarenakan tuntutan atau tekanan kebutuhan untuk dia bisa mencapai hasil yang maksimal dengan cara curang. Karena kalau khawatir atau takut apabila dia tidak bisa mencapainya ada konsekuensi lain yang bisa ia terima," kata Anastasia.
Ketakutan akan hukuman serta potensi kekecewaan dari pihak keluarga menjadi beban mental tersendiri bagi para peserta ujian. Anastasia menegaskan bahwa kekhawatiran terhadap reaksi orang tua merupakan salah satu alasan kuat yang memicu peserta mencoba berbagai modus kecurangan tersebut.
"Misalkan hukuman, atau kemarahan, kekecewaan orang tua, atau banyak hal lain yang dia khawatir konsekuensi itu bisa terjadi sama dia, sehingga dia mencoba berbagai cara," lanjut Anastasia.