Sebanyak 15 penumpang meninggal dunia dan 84 orang mengalami luka-luka akibat kecelakaan yang melibatkan KRL Commuter Line nomor PLB 5568A jurusan Cikarang dengan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam.
Dilansir dari Megapolitan, insiden maut ini kembali memicu perdebatan publik mengenai kebijakan penempatan gerbong khusus perempuan yang terletak di ujung rangkaian kereta. Seluruh korban luka telah dievakuasi ke delapan rumah sakit berbeda di wilayah Bekasi guna mendapatkan penanganan medis intensif.
Data dari lokasi kejadian menunjukkan bahwa 240 penumpang KA Argo Bromo Anggrek relasi GambirÔÇôSurabaya Pasar Turi dilaporkan selamat dalam peristiwa tersebut. Sementara itu, 10 kantong jenazah korban meninggal telah dikirim ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi lebih lanjut.
| No | Nama Korban | Usia | Asal Daerah |
|---|---|---|---|
| 1 | Anita Sari | 31 | Cikarang Barat, Bekasi |
| 2 | Harum Anjasari | 27 | Cipayung, Jakarta Timur |
| 3 | Nur Alimantun Citra Lestari | 19 | Pasar Jambi |
| 4 | Faridha Utami | 50 | Cibitung, Bekasi |
| 5 | Fika Aknia Pratiwi | 23 | Cikarang Barat |
| 6 | Ida Nuraida | 48 | Cibitung, Bekasi |
| 7 | Gita Septia Wardani | 20 | Cibitung, Bekasi |
| 8 | Fatmawati Rahmayani | 29 | Bekasi Selatan, Kota Bekasi |
| 9 | Rinjani Novitasari | 25 | Tambun Selatan, Bekasi |
| 10 | Nur Ainia Eka Rahmadhynna | 32 | Tambun Selatan, Kota Bekasi |
Kebijakan Gerbong Perempuan
Merespons sorotan publik terhadap keamanan gerbong ujung, PT KAI merujuk pada penjelasan teknis yang pernah disampaikan pasca-kecelakaan di Stasiun Juanda tahun 2015. Muhammad Nurul Fadhila yang saat itu menjabat Direktur Utama PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) menjelaskan bahwa posisi gerbong perempuan didasarkan pada kemudahan aksesibilitas.
"Kalau ditaruh di tengah mereka sulit untuk mencapainya. Bisa dibayangkan di Tanah Abang yang orangnya sangat ramai. Kalau yang sekarang kan lebih mudah," kata Fadhila, Direktur Utama PT KCJ.
Penempatan di posisi paling depan dan paling belakang diklaim memberikan efisiensi waktu bagi kelompok prioritas saat akan meninggalkan peron stasiun yang padat. Fadhila mencontohkan mobilitas penumpang di stasiun besar akan jauh lebih efektif dengan skema tersebut.
"Seperti misalnya ada yang sampai di Kota di kereta paling depan, tentu mereka akan lebih cepat turunnya," ujar Fadhila, Direktur Utama PT KCJ.
Meskipun terdapat risiko saat terjadi benturan, otoritas kereta api menyatakan bahwa kebijakan ini telah melalui proses perencanaan yang matang dengan mempertimbangkan berbagai aspek kebutuhan penumpang di lapangan.
"Karena pada saat ini direncanakan dulu tentu kita tidak menginginkan terjadinya kecelakaan," kata Fadhila, Direktur Utama PT KCJ.
Pihak rumah sakit saat ini masih terus melakukan perawatan terhadap puluhan korban luka di RSUD Bekasi, RS Bella, RS Primaya, hingga RS Mitra Keluarga Bekasi Timur.