Sebuah rekaman video yang memperlihatkan perdebatan antara seorang penumpang pria dan petugas PT KAI pasca-kecelakaan KRL di Bekasi Timur menjadi viral di media sosial. Insiden tersebut melibatkan Kereta Argo Bromo yang menabrak rangkaian KRL setelah adanya kendala pada lintasan di depan stasiun.
Dilansir dari Suara, ketegangan di area stasiun terjadi karena adanya hambatan di jalur arah Timur yang menyebabkan kereta berhenti secara mendadak. Lokasi kejadian dilaporkan berada di area perlintasan liar yang menjadi titik awal gangguan perjalanan kereta tersebut.
"Kalau memang normal, ini sudah jalan Pak, yang KRL dari arah Timur sudah masuk stasiun ini," jelas petugas KAI memberikan argumentasi kepada penumpang di lokasi kejadian.
Petugas tersebut kemudian memberikan keterangan tambahan mengenai penyebab teknis penghentian operasional kereta yang tidak terduga di jalur tersebut.
"Tapi berhubung yang dari arah Timur menghambat di depan situ, otomatis kereta berhenti dadakan," sambungnya.
Petugas KAI juga menjawab pertanyaan mengenai sistem peringatan dini yang dianggap tidak berfungsi saat insiden tabrakan dengan taksi listrik terjadi.
"Enggak ada Pak, karena di situ perlintasan liar," jawab petugas KAI.
Di sisi lain, penumpang pria yang terlibat debat mengeluhkan minimnya koordinasi antara pihak stasiun dengan rangkaian kereta yang sedang beroperasi. Ia menyebut adanya ketidaksinkronan informasi mengenai proses evakuasi kendaraan yang terseret di rel.
"Ada informasi di dalam KRL, kereta belum bisa diberangkatkan, ada mobil yang keseret, jadi mau dievakuasi di stasiun sini," beber pria tersebut saat memberikan keterangan kepada awak media.
Pria itu menyayangkan sikap pengelola stasiun yang dianggap tidak menahan laju kereta dari arah lain saat proses evakuasi sedang direncanakan.
"Anehnya, pihak dari stasiun sini enggak dikasih info, suruh nahan keretanya yang mau arah ke Jawa," sambungnya.
Saksi mata ini menggambarkan situasi mencekam di dalam gerbong ketiga KRL saat Kereta Argo Bromo mendekat dengan kecepatan tinggi hingga memicu kepanikan luar biasa.
"Di gerbong tiga itu sudah jungkir balik semua, pada mental semua. Mendadak itu. Bukan kencang lagi, sudah kayak rudal," tuturnya.
Ia menyoroti durasi pemberhentian KRL yang cukup lama di stasiun, yang menurutnya seharusnya bisa dimanfaatkan untuk mengosongkan rangkaian gerbong demi keselamatan penumpang.
"Ini kan berhentinya lama itu tadi barusan. Kalau suruh keluar dulu, mungkin ya nyawa banyak yang selamat lah," katanya.
Meskipun melayangkan kritik keras terhadap prosedur mitigasi, pria tersebut menyatakan tidak bermaksud mencari pihak untuk disalahkan sepenuhnya atas kejadian itu.
"Namanya ini kan musibah," tandasnya.