Kecelakaan KRL dan KA Argo Bromo Dipicu Mogoknya Taksi Listrik VinFast

Kecelakaan KRL dan KA Argo Bromo Dipicu Mogoknya Taksi Listrik VinFast
Foto: Ilustrasi Kecelakaan KRL dan KA Argo Bromo Dipicu Mogoknya Taksi Listrik VinFast.

Insiden tabrakan beruntun melibatkan KRL relasi Kampung Bandan-Cikarang dan KA Argo Bromo Anggrek terjadi di Bekasi Timur, Senin (27/4/2026) malam, akibat mobil listrik Green SM mogok di perlintasan sebidang JPL 85 Ampera, sebagaimana dilansir dari Suara.

Kendaraan operasional besutan VinFast tersebut terhenti tepat di jalur kereta sebelum akhirnya dihantam oleh rangkaian KRL yang sedang melintas. Dampak kecelakaan meluas saat KRL yang berhenti darurat di Stasiun Bekasi Timur kemudian ditabrak dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek.

Kecelakaan ini memicu desakan dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) agar Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) melakukan investigasi menyeluruh. Fokus utama pemeriksaan diharapkan tertuju pada keandalan armada taksi listrik yang memicu gangguan perjalanan tersebut.

Ketua Forum Perkeretaapian MTI, Deddy Herlambang, menekankan perlunya evaluasi mendalam terhadap aspek teknis armada kendaraan listrik yang beroperasi di area publik. Penegasan ini muncul karena risiko kegagalan fungsi di titik krusial seperti rel kereta api sangat membahayakan keselamatan jiwa.

"Seberapa siap ekosistem kendaraan listrik yang selama ini digadang-gadang menjadi masa depan transportasi Indonesia?" tanya Deddy Herlambang, Ketua Forum Perkeretaapian MTI.

Deddy menilai investigasi teknis terhadap unit Green SM wajib dilakukan untuk memastikan apakah ada kerentanan mesin yang membuat kendaraan mati mendadak. Menurutnya, izin operasional armada harus dievaluasi total jika ditemukan kelemahan sistemik pada kendaraan tersebut.

"Apakah percepatan elektrifikasi berjalan lebih cepat daripada kesiapan sistem keselamatannya?" lanjut Deddy Herlambang, Ketua Forum Perkeretaapian MTI.

Perusahaan otomotif asal Vietnam, VinFast, sebelumnya telah berkomitmen menggelontorkan investasi senilai US$1,2 miliar di Indonesia untuk mempercepat ekosistem kendaraan listrik. Selain itu, Green SM juga merencanakan tambahan modal sebesar US$900 juta guna mendukung transisi pengemudi transportasi daring ke kendaraan listrik.

Kini, hasil investigasi KNKT terhadap keandalan unit VinFast menjadi penentu persepsi publik terhadap keamanan teknologi tersebut. Krisis kepercayaan pasar global berisiko membayangi ekspansi VinFast jika masalah teknis pada unit Green SM terbukti menjadi penyebab utama gangguan transportasi massal ini.

Artikel terkait

Rekomendasi