Insiden maut yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026, mengakibatkan 14 orang meninggal dunia. Peristiwa tragis ini memicu kembali ingatan publik terhadap memori kelam Tragedi Bintaro 1987 akibat adanya kemiripan isu keselamatan transportasi rel.
Data terbaru menunjukkan bahwa selain korban jiwa, terdapat 84 orang lainnya yang mengalami luka-luka dalam kecelakaan di KM 28+920 tersebut. Sebagaimana dilansir dari Suara, para korban dievakuasi menggunakan tandu sementara petugas melakukan pemotongan badan gerbong untuk membebaskan penumpang yang terjepit di antara puing-puing kereta.
Kronologi kejadian bermula saat satu rangkaian KRL Commuter Line melakukan pengereman mendadak setelah menabrak sebuah mobil yang mogok di perlintasan sebidang. Sesaat setelah berhenti, rangkaian KRL tersebut dihantam dari arah belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek yang sedang melaju, menyebabkan kerusakan parah pada gerbong belakang yang merupakan area khusus wanita.
Kecelakaan ini memicu gelombang respons masyarakat di media sosial yang mengaitkannya dengan peristiwa 19 Oktober 1987 di Pondok Betung, Tangerang Selatan. Peristiwa yang dikenal sebagai Tragedi Bintaro tersebut terjadi ketika KA 220 Patas Merak dan KA 225 Lokal Rangkas bertabrakan adu banteng di jalur tunggal.
Tragedi sejarah itu merenggut nyawa antara 139 hingga 156 orang dan melukai ratusan lainnya akibat kegagalan sistem sinyal serta kesalahan komunikasi petugas. Insiden tahun 1987 tetap tercatat sebagai kecelakaan kereta api paling mematikan dalam sejarah transportasi di Indonesia dengan kerugian material mencapai Rp1,9 miliar.
Publik juga menyoroti kemiripan lokasi dengan insiden Tragedi Bintaro II yang terjadi pada 9 Desember 2013, tidak jauh dari lokasi tahun 1987. Pada peristiwa 2013 tersebut, sebuah rangkaian KRL menabrak truk tangki bahan bakar yang menyebabkan sembilan orang tewas termasuk kru kereta api.
Rentetan kecelakaan ini menjadi desakan bagi PT KAI dan pemerintah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap prosedur operasional dan sistem keamanan jalur kereta api. Saat ini, fokus utama petugas di lapangan adalah menyelesaikan proses evakuasi bangkai kereta dan memulihkan arus perjalanan di lintasan Bekasi Timur.