Insiden tabrakan hebat yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di kawasan Bekasi Timur pada Senin (27/04/2026) malam menyebabkan enam orang meninggal dunia. Dilansir dari Suara, peristiwa tragis ini mengakibatkan puluhan penumpang mengalami luka-luka dan sejumlah korban dilaporkan masih terjepit di badan kereta.
Data terkini menunjukkan bahwa evakuasi terus dilakukan di lokasi kejadian setelah dampak benturan membuat gerbong KRL ringsek. Kecelakaan ini sempat memuncaki topik populer di media sosial X lantaran video kesaksian dari lapangan tersebar luas, termasuk rekaman saat benturan terjadi yang memperlihatkan kepanikan penumpang serta petugas.
Seorang petugas KAI bernama Nofiandi memberikan penjelasan terkait prosedur penyelamatan darurat kepada penumpang di tengah situasi yang belum sepenuhnya stabil. Ia menekankan perlunya koordinasi dengan pihak stasiun untuk memindahkan orang-orang dari area berbahaya.
"Iya paling evakuasinya ke atas, tapi koordinasi sama pihak stasiunnya ya. Amannya sebenarnya ke atas aja sih, langsung di titik evakuasinya kan ini di atas," jawab petugas KAI.
Kru tersebut menanggapi permintaan informasi dari saksi di lokasi yang mengkhawatirkan kondisi psikologis penumpang pasca-tabrakan. Petugas mengakui bahwa guncangan emosional juga dirasakan oleh para pekerja kereta api yang berada di tempat kejadian.
"Sama, kalau syok saya juga syok ini Mas," jawab petugas KAI.
Nofiandi kemudian memberikan keterangan mengenai indikasi penyebab kecelakaan yang melibatkan dua rangkaian kereta pada jalur yang sama. Dugaan awal mengarah pada masalah teknis terkait sistem persinyalan di lintasan tersebut.
"Enggak miskomunikasi, kayaknya ini sinyalnya ada yang eror," ungkap petugas KAI.
Terkait informasi dari Pusat Kendali Kereta Api (OCC), kru masinis Argo Bromo menyebutkan bahwa informasi yang diterima belum utuh saat kereta sudah menghadapi sinyal merah di jalur tersebut. Hal ini menghambat antisipasi yang lebih cepat sebelum tabrakan terjadi.
"Tadi nginfoin PK-nya (Pusat Kendali Kereta Api atau OCC), cuman saya belum kopi informasi sepenuhnya, udah keburu sinyal merah ini," jawab kru masinis Argo Bromo.
Petugas di lokasi kecelakaan menjelaskan adanya ketidakkonsistenan antara sinyal hijau dari arah Bekasi dengan indikator yang mereka temui di titik kejadian. Ia juga mengonfirmasi bahwa kereta melaju pada kecepatan tinggi yakni sekitar 110 kilometer per jam sebelum insiden.
"Dibilang mendadak sih enggak, cuman harusnya itu kan enggak bisa merah, soalnya dari Bekasinya hijau. Koneksi harusnya kalau hijau, sini maksimal kuning, enggak bisa merah. Kalau soal kecepatan, kecepatannya lumayan, udah hampir menyentuh 100 kan? 110-an," jawab petugas di lokasi kecelakaan.
Penumpang yang khawatir juga sempat mempertanyakan langkah pengamanan lebih lanjut di lokasi evakuasi. Hal ini dilakukan guna memastikan seluruh orang yang selamat segera dipindahkan ke area yang lebih aman di atas stasiun.
"Maksudnya tuh kalau misalkan di sini kondisinya tidak aman, kita diamanin dulu gitu pak, ke atas atau ke mana lah," ungkap Railfans.
Pihak kru kereta api kemudian membalas pernyataan tersebut dengan menekankan pentingnya komunikasi aktif dari petugas kepada seluruh penumpang yang masih berada di lokasi. Hal ini bertujuan untuk meredam kepanikan massal setelah kecelakaan berlangsung.
"Enggak maksud tuh pihak kru dari sini Pak, informasikan. Kan ini banyak nih. Barangkali ada yang syok gitu Pak," balas Railfans.