Kecelakaan maut yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dengan Kereta Rel Listrik (KRL) di Bekasi Timur pada Senin, 27 April 2026 malam, mengakibatkan 14 orang meninggal dunia. Insiden ini memicu gelombang kritik dari publik mengenai keamanan jalur perlintasan dan manajemen waktu tempuh kereta api cepat.
Dilansir dari Suara, tabrakan tersebut terjadi antara KA Argo Bromo Anggrek relasi Surabaya-Jakarta dengan KRL Commuter Line lintas KPB-CKR. Peristiwa ini menambah panjang catatan insiden yang melibatkan rangkaian kereta eksekutif tersebut, yang dilaporkan telah mengalami dua kecelakaan dalam kurun waktu satu tahun terakhir.
Data riwayat perjalanan menunjukkan KA Argo Bromo Anggrek tercatat telah terlibat dalam 10 kali kecelakaan sejak tahun 2000 hingga 2006. Kereta yang mulai beroperasi pada 31 Juli 1995 ini memiliki waktu tempuh rata-rata 7 jam 45 menit untuk jarak sejauh 720 kilometer.
Publik melalui media sosial X menyoroti perlunya evaluasi terhadap infrastruktur rel yang masih bercampur antara kereta jarak jauh dan layanan lokal. Pengguna akun @udarida memberikan kritik tajam mengenai penggunaan jalur peninggalan masa kolonial untuk operasional kereta cepat.
"FYI Argo Bromo udah 2 kali kecelakaan Dalam setahun terakhir. SBY-JKT under 8 jam perlu dipertimbangkan lagi. Kalo memang mau kereta express harusnya bikin track khusus, bukan pakai jalur angkut tebu peninggalan Belanda," cuit @udarida.
Cuitan tersebut mendapatkan perhatian luas dengan ribuan tanda suka. Pengguna lain berpendapat bahwa persoalan utama terletak pada manajemen jalur di wilayah Jabodetabek yang sangat padat.
"Kayaknya kalau masalah jam tempuh nggak ada masalah ya, mereka memang jual ketepatan waktu dan durasi yang singkat. Yang perlu dipertimbangkan tuh pemisahan jalur KAJJ dan KRL waktu di Jabodetabek. Atau KAJJ premium emang harusnya punya jalur sendiri," pendapat @ci**am**r0111.
Desakan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur Double Double Track (DDT) juga mengemuka sebagai solusi teknis guna menghindari tabrakan antar-rangkaian di masa depan. Kelengkapan sistem persinyalan dianggap menjadi faktor krusial dalam mitigasi bencana di jalur sibuk.
"Infrastruktur jaringan Jalur super sibuk Jakarta - Cikarang udah harus DOUBLE DOUBLE TRACK. Sinyal kereta api udah harus realtime! Kalau ada kecelakaan dan bencana alam kereta bisa rem tanpa harus nunggu sinyal dari stasiun," cuit @he**wa**oma.
Narasi publik juga membandingkan prioritas pembangunan pemerintah pusat terhadap proyek kereta cepat baru dengan kebutuhan mendesak pada jalur eksis yang melayani rakyat banyak. Pemisahan jalur kereta jarak jauh dan KRL dinilai sebagai keharusan yang tertunda.
"Betul, apalagi digabung KRL. Kecelakaan ini mungkin tidak akan terjadi kalau pemerintah mengutamakan rakyat untuk membuat DDT agar KRL dan KAJJ terpisah. Tapi apalah daya, ketunda, dan mereka lebih mengutamakan Wush, MBG dan Kopdes. Padahal DDT cuma setara 5 Hari MBG," timpal @F**rd*17.
Selain masalah infrastruktur fisik, beberapa pihak juga mulai mempertanyakan faktor-faktor eksternal lain yang mungkin memengaruhi keselamatan operasional kereta api di Indonesia.
"Nggak cuma soal track dong, mobil listrik Vietnam juga salah keitungnya," pendapat @ji**o**gi.
Pihak berwenang saat ini masih melakukan investigasi lebih lanjut terkait penyebab pasti kecelakaan di Bekasi Timur tersebut. KA Argo Bromo Anggrek sendiri merupakan layanan legendaris yang sebelumnya diluncurkan untuk menggantikan KA Suryajaya pada pertengahan era 1990-an.