Insiden maut yang melibatkan satu unit taksi listrik dan dua rangkaian kereta api di perlintasan Stasiun Bekasi Timur pada Senin, 27 April 2026, mengakibatkan tujuh orang meninggal dunia. Peristiwa tragis ini juga menyebabkan 81 penumpang lainnya mengalami luka-luka serius akibat tabrakan beruntun tersebut.
Dilansir dari Suara, petaka bermula sekitar pukul 20.40 WIB saat sebuah taksi listrik milik Green SM Indonesia mengalami mogok di tengah perlintasan sebidang JPL 85, wilayah Bulak Kapal. KRL Commuter Line relasi Cikarang-Bekasi yang sedang melintas kemudian menabrak kendaraan tersebut hingga terhenti mendadak.
Situasi memburuk ketika KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya meluncur dari arah belakang dan menghantam gerbong KRL yang sedang berhenti. Seluruh korban jiwa merupakan penumpang KRL, sementara 240 penumpang KA Argo Bromo Anggrek dilaporkan selamat dalam kejadian ini.
Pihak Green SM Indonesia memberikan pernyataan resmi melalui media sosial terkait keterlibatan armada SUV listrik VinFast VF e34 milik mereka. Perusahaan asal Vietnam tersebut menyatakan dukungannya terhadap proses investigasi yang dilakukan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
"Green SM Indonesia menaruh perhatian penuh pada terjadinya insiden di area perlintasan dekat Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026, yang melibatkan satu kendaraan Green SM dan kereta yang melintas. Kami telah menyampaikan informasi yang relevan kepada pihak berwenang serta mendukung penuh proses investigasi yang sedang berlangsung. Keselamatan tetap menjadi prioritas utama kami. Kami berkomitmen untuk menjaga standar keselamatan yang tinggi melalui sistem operasional, pengawasan, serta peningkatan layanan secara berkelanjutan. Kami akan terus menyampaikan perkembangan terbaru seiring dengan tersedianya informasi yang telah terverifikasi." ujar pihak Green SM Indonesia dalam keterangan resminya.
Manajemen perusahaan mengonfirmasi bahwa unit taksi tersebut dalam keadaan tanpa penumpang saat kejadian, dan mitra pengemudi berhasil menyelamatkan diri sebelum benturan terjadi. Meski demikian, pernyataan ini mendapat sorotan karena tidak mencantumkan permohonan maaf eksplisit kepada para korban kecelakaan.
Kondisi ini berbeda dengan langkah PT KAI yang segera menyampaikan duka mendalam dan permohonan maaf secara terbuka kepada para pelanggan sesaat setelah insiden. Saat ini, penyebab pasti mogoknya mobil listrik seharga Rp300 jutaan tersebut di tengah rel masih dalam tahap pemeriksaan intensif oleh pihak berwenang.