Kecelakaan Beruntun Kereta di Stasiun Bekasi Timur Melibatkan Taksi Listrik

Kecelakaan Beruntun Kereta di Stasiun Bekasi Timur Melibatkan Taksi Listrik
Foto: Ilustrasi Kecelakaan Beruntun Kereta di Stasiun Bekasi Timur Melibatkan Taksi Listrik.

Kecelakaan beruntun melibatkan KA Argo Bromo Anggrek, KRL Commuter Line, dan sebuah taksi listrik terjadi di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026. Insiden tragis ini memicu perhatian publik setelah lokomotif kereta cepat tersebut menembus tiga rangkaian gerbong KRL yang sedang berhenti di stasiun.

Dilansir dari Suara, tabrakan bermula saat KA Argo Bromo Anggrek yang melaju kencang dari arah Stasiun Gambir menghantam bagian belakang KRL jalur Kampung Bandan-Cikarang. Unit KRL tersebut sedang tertahan di Stasiun Bekasi Timur untuk menunggu informasi operasional lebih lanjut.

Penghentian KRL tersebut disebabkan oleh insiden di lokasi sebelumnya, di mana KRL lain dari arah Cikarang menabrak taksi Green SM yang terjebak di tengah perlintasan. Mobil listrik tersebut terseret beberapa meter sebelum akhirnya berhenti di jalur kereta api, sementara pengemudinya berhasil menyelamatkan diri sebelum benturan terjadi.

Dokumentasi visual yang tersebar di media sosial memperlihatkan kerusakan parah pada zona gerbong wanita yang berada di rangkaian paling belakang KRL. Taksi berwarna hijau toska yang menjadi pemicu awal kemacetan jalur ini mendapat kecaman luas dari warganet karena dianggap menyebabkan efek domino kecelakaan fatal tersebut.

Green SM, atau secara resmi terdaftar sebagai PT Xanh SM Green, merupakan perusahaan transportasi milik miliarder Vietnam, Pham Nhat Vuong. Sosok yang juga pendiri Vingroup ini memperkenalkan layanan Green and Smart Mobility (GSM) di Indonesia sejak Desember 2024 dengan ambisi mempercepat penggunaan kendaraan ramah lingkungan.

Di bawah kepemimpinan Managing Director Deny Tjia, Green SM Indonesia mengoperasikan armada mobil listrik VinFast model VF e34 dan VF 5. Perusahaan ini sebelumnya telah menjalin kerja sama strategis dengan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) untuk pendanaan armada senilai Rp600 miliar guna mendukung ekspansinya di pasar lokal.

"Xanh SM" merupakan nama asli merek tersebut di negara asalnya sebelum berganti nama menjadi Green SM Indonesia pada April 2025 agar lebih mudah dikenal masyarakat. Meskipun berstatus produk impor, perusahaan ini aktif melakukan kolaborasi lokal, termasuk penyediaan layanan taksi listrik di Bali bersama Komotra.

Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan kini melakukan pemantauan ketat terhadap standar keselamatan dan integrasi transportasi Green SM pasca-insiden di Bekasi. Fokus pengawasan diarahkan pada prosedur keamanan armada yang ditargetkan mencapai 10.000 unit tersebut di tengah sorotan publik mengenai keselamatan operasional.

Artikel terkait

Rekomendasi