Insiden maut melibatkan kereta api Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line terjadi di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, pada Senin (27/4/2026) malam. Peristiwa tragis ini dilaporkan menyebabkan belasan orang kehilangan nyawa serta puluhan lainnya mengalami luka-luka.
Dilansir dari Kompas, data terbaru yang dihimpun hingga Rabu (29/4/2026) siang menunjukkan skala dampak kecelakaan yang cukup besar. Pihak kepolisian terus melakukan pendalaman untuk mengungkap penyebab pasti rangkaian tabrakan tersebut.
Berdasarkan informasi resmi Kementerian Perhubungan, rangkaian kejadian bermula saat KRL relasi Bekasi-Cikarang menabrak sebuah mobil di perlintasan sebidang JPL 85. Hal ini memicu gangguan jadwal perjalanan di lintasan tersebut secara signifikan.
KRL yang terlibat kecelakaan awal harus dievakuasi dan statusnya diubah menjadi Perjalanan Luar Biasa (PLB) dengan kode 5181. Situasi ini memaksa petugas untuk memberhentikan rangkaian KRL lain, yaitu PLB 5568 tujuan Cikarang, di peron Stasiun Bekasi Timur.
Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek
Petaka berlanjut ketika KA Argo Bromo Anggrek (KA 4) rute Jakarta-Surabaya melintas di jalur yang sama. Kereta eksekutif tersebut tidak sempat berhenti sepenuhnya, sehingga menghantam bagian belakang KA PLB 5568 yang sedang berhenti di stasiun.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, menjelaskan bahwa terdapat dua peristiwa krusial yang saling berkaitan dalam malam kejadian itu. Segalanya berawal dari kendala teknis yang dialami oleh satu unit kendaraan transportasi daring.
"Pertama, kejadian bermula dari adanya kendaraan taksi online yang melintas di perlintasan sebidang Jalan Ampera Bekasi Timur," kata Budi dalam program Kompas Siang di KompasTV, Rabu (29/4/2026).
Budi menambahkan bahwa kendaraan tersebut mengalami kerusakan mesin atau malfungsi saat berada di tengah rel. Kondisi ini membuat mobil berhenti mendadak dan menghalangi jalur perlintasan KRL Commuter Line.
Malfungsi taksi online tersebut diduga kuat menjadi pemicu awal yang menghambat seluruh alur perjalanan kereta api di wilayah Bekasi. Dampak beruntun dari kemacetan jalur ini akhirnya berujung pada kecelakaan kedua yang lebih fatal.
"Inilah yang terjadi yang mengakibatkan fatalitas, kerugian, baik materi, kerugian jiwa, serta luka-luka, di mana KRL ditabrak dari belakang oleh kereta api cepat Argo Bromo Anggrek tujuan Surabaya Pasarturi," ujar Budi.
Data Korban dan Proses Penyelidikan
Pihak kepolisian saat ini telah meningkatkan status penanganan kasus ke tahap penyelidikan dan penyidikan. Fokus pemeriksaan mencakup insiden taksi online serta tabrakan utama antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL.
Hingga saat ini, tim penyidik telah mengumpulkan keterangan dari berbagai pihak guna memperjelas duduk perkara. Sebanyak 22 orang saksi telah menjalani pemeriksaan dan wawancara oleh petugas kepolisian terkait peristiwa tersebut.
Mengenai kondisi para korban, Budi Hermanto menyampaikan perkembangan data terkini yang diterima pihak kepolisian per Rabu siang pukul 11.00 WIB. Jumlah korban meninggal dunia tercatat terus bertambah dari laporan awal.
"Kami terima hari ini per 29 April 2026 sekitar pukul 11.00 (WIB), korban total adalah 106 orang, di mana korban luka 90 orang, 44 pasien sudah pulang ke rumah, 46 pasien sedang melaksanakan observasi, meninggal dunia 16 orang," ucap Budi.