Kebiasaan maladaptif yang terbentuk akibat tekanan pekerjaan dan kelelahan fisik dilaporkan menjadi ancaman serius bagi kualitas hubungan romantis pasangan di rumah. Fenomena ini muncul akibat respons negatif individu terhadap stres kerja saat berinteraksi dengan pasangan mereka, sebagaimana dilansir dari Lifestyle.
Francheska Perepletchikova, seorang psikolog klinis sekaligus Associate Professor of Psychiatry di University of Massachusetts Medical School, mengidentifikasi adanya pola perilaku tidak sehat yang merusak keharmonisan rumah tangga. Tekanan pekerjaan sering kali terbawa ke ruang personal tanpa disadari oleh para pekerja.
"Tekanan umum dalam hubungan romantis sering kali melibatkan kebiasaan tidak sehat yang terbentuk dari stres pekerjaan," ujar Perepletchikova pada Kamis (7/5/2026).
Peneliti menekankan bahwa kebiasaan memendam masalah secara sepihak justru menjadi bumerang bagi kesehatan mental dan keutuhan hubungan. Penutupan diri terhadap pasangan dianggap sebagai bentuk sabotase yang memperburuk situasi emosional di rumah.
"Mengabaikan stres adalah ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya untuk menghancurkan diri," kata Perepletchikova.
Pakar juga menyoroti masalah ketidakkonsistenan dalam pembagian tanggung jawab domestik yang sering dipicu oleh dalih kelelahan bekerja. Hal ini dapat menimbulkan rasa tidak dihargai pada pihak pasangan yang merasa menanggung beban lebih berat secara terus-menerus.
Perepletchikova menilai bahwa interaksi berlebihan dengan gawai untuk pelarian stres dapat memicu perbandingan sosial yang merugikan suasana hati dan pola tidur. Kondisi tersebut secara tidak langsung menekan kualitas kedekatan antarpasangan.
Sementara itu, psikolog berlisensi Brittany McGeehan menjelaskan bahwa meluapkan keluhan secara otomatis tanpa melihat kesiapan mental pasangan dapat menciptakan beban emosional yang berat. Komunikasi dua arah diperlukan untuk memastikan kapasitas pendengar sebelum memulai curahan hati.
"Melampiaskan stres hari itu memang terasa perlu, tetapi melakukannya secara otomatis bisa membuat pasangan kewalahan," ujar McGeehan.
Keterikatan pada ponsel untuk mengakses media sosial sesampainya di rumah juga dikritik karena menciptakan jarak emosional. Kehadiran fisik tanpa keterlibatan mental memberikan sinyal negatif kepada pasangan mengenai tingkat ketertarikan satu sama lain.
"Hadir secara fisik tetapi absen secara mental memberi pesan halus berupa ketidaktertarikan," ungkap McGeehan.
Masalah lain yang muncul adalah sulitnya melepaskan mode kerja atau pemecahan masalah profesional saat sudah berada di lingkungan rumah. McGeehan menyarankan adanya ritual transisi kecil untuk membantu tubuh dan pikiran beralih dari fase kerja ke fase istirahat bersama keluarga.
"Pelukan singkat, berjalan bersama, atau percakapan singkat yang disengaja sudah cukup untuk membangun ulang koneksi," kata McGeehan.