Kecelakaan fatal melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Jakarta-Cikarang di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam mengakibatkan Nur Ainia Eka Rahmadhynna (32) meninggal dunia. Sosok karyawan Kompas TV tersebut dikenal keluarga sebagai pribadi mandiri dan penyayang hewan, seperti dilansir dari Megapolitan.
Data identifikasi RS Polri Kramat Jati mengonfirmasi identitas korban sebagai warga Tambun Selatan, Bekasi. Korban yang bekerja sebagai news production support ini merupakan salah satu dari sepuluh jenazah yang dievakuasi petugas dari lokasi kejadian setelah peristiwa nahas tersebut terjadi.
Karo Dokpol Polri, Brigjen Pol Nyoman Eddy Purnama Wirawan menjelaskan bahwa proses identifikasi dilakukan melalui pencocokan data primer dan sekunder pada Selasa (28/4/2026) dini hari.
"Jenazah dengan nomor PM 010 teridentifikasi dengan data primer sidik jari dan sekunder dari properti dengan nomor AM 008 sebagai Nur Ainia Eka Rahmadina, 32 tahun, dari Tambun Selatan Bekasi," ujar Nyoman Eddy Purnama Wirawan, Karo Dokpol Polri.
Kepastian mengenai status kepegawaian korban juga disampaikan oleh pihak manajemen media tempatnya bekerja. Wakil Pimpinan Redaksi KOMPAS TV, Martian Damanik memberikan konfirmasi singkat mengenai kabar duka tersebut melalui pesan teks.
"Benar, (salah satu korban adalah Aina)," kata Martian Damanik, Wakil Pimpinan Redaksi KOMPAS TV.
Pihak PT Kereta Api Indonesia (KAI) turut membenarkan insiden yang merenggut nyawa Ain. Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba menyatakan bahwa seluruh korban meninggal telah dikirim ke fasilitas kesehatan untuk penanganan lebih lanjut.
"Betul. Ada 10 tadi yang dibawa ke (RS) Polri untuk dilakukan proses identifikasi," ujar Anne Purba, Vice President Corporate Communication KAI.
Hary Marwata, ayah korban, mengenang anak sulungnya sebagai sosok tegas yang sangat memperhatikan adik-adiknya. Kepergian Ain meninggalkan duka mendalam bagi keluarga yang mengenang kebaikan hatinya di rumah maupun di tempat kerja.
"Tapi sebenarnya dia sayang sekali dengan adik-adiknya," tutur Hary Marwata, Ayah Korban.
Hary menambahkan bahwa Ain adalah individu yang sangat mandiri dan memiliki rutinitas disiplin tanpa pernah membebani orang tua. Kepedulian sosialnya juga terlihat dari kebiasaan korban memberi makan kucing-kucing liar di sekitar kantornya.
"Dia anak yang tidak pernah merepotkan. Kalau berangkat kerja pagi, dia tidak pernah membangunkan orangtua, tahu-tahu sudah berangkat. Sorenya pamit berangkat lagi jam 15.00 WIB," ujarnya Hary Marwata, Ayah Korban.
Keluarga merasa sangat kehilangan karena Ain sempat menyusun rencana untuk berlibur bersama saudara dan sepupunya. Persiapan perjalanan tersebut bahkan sudah dilakukan secara matang sebelum kecelakaan terjadi.
"Bukan cuma kucing-kucing di rumah yang ada tiga ekor, tapi kucing-kucing di kantornya pun sering dia beri makan," kata Hary Marwata, Ayah Korban.
Rencana liburan ke Malang yang dijadwalkan pada pertengahan tahun ini kini tidak akan pernah terealisasi. Sebuah koper yang sudah disiapkan Ain menjadi saksi bisu keinginan terakhir korban untuk menghabiskan waktu bersama keluarga besar.
"Dia sebenarnya mau ambil cuti untuk liburan dan jalan-jalan bersama adik dan sepupunya ke Malang. Rencananya bulan Juli nanti, tapi ternyata tidak kesampaian," ungkap Hary Marwata, Ayah Korban.