Insiden tabrakan hebat melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dengan rangkaian KRL Commuter Line terjadi di Stasiun Bekasi Timur hingga mengakibatkan 15 orang meninggal dunia dan 84 orang lainnya luka-luka. Dilansir dari Suara, kecelakaan maut ini memicu penyelidikan mendalam terkait kegagalan sistem persinyalan yang diduga terganggu oleh kendaraan listrik.
Data teknis menunjukkan lokomotif KA Argo Bromo Anggrek yang memiliki bobot masif menembus masuk ke dalam gerbong belakang KRL. Perbedaan massa yang signifikan antara lokomotif seberat 120-140 ton dengan gerbong KRL yang hanya 40-60 ton menjadi penyebab kerusakan parah pada rangkaian kereta komuter tersebut.
Pengamat transportasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Sony Sulaksono, memberikan analisis terkait keterlibatan taksi listrik dalam gangguan sistem keamanan ini. Ia menilai komponen elektrik pada kendaraan tersebut memengaruhi parameter sinyal di rel besi sehingga sistem tidak mengeluarkan peringatan bagi kereta di belakangnya.
"Taksi kan mogok di tengah rel yang dari besi, jadi ada kemungkinan memengaruhi sinyal. Harusnya kalau kejadian tabrakan seperti itu ada warning buat kereta api sebelumnya," terang Sony Sulaksono, Pengamat transportasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB).
Sony menambahkan bahwa risiko gangguan parameter elektrikal persinyalan cenderung lebih kecil jika kendaraan yang mogok merupakan mobil konvensional. Kondisi ini mendesak adanya mitigasi khusus terkait potensi kecelakaan yang melibatkan kendaraan listrik di jalur perlintasan kereta api.
"Memang ada kecurigaan yang ditabraknya itu mobil listrik ya, yang punya komponen-komponen elektrik yang mungkin bisa memengaruhi persinyalan. Ini mungkin ada penyidikan lebih jauh terutama dari KNKT," lanjut Sony Sulaksono, Pengamat transportasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB).
Selain masalah persinyalan, ia juga menyoroti kehancuran fisik gerbong yang terjadi akibat perbedaan beban antara kedua jenis sarana perkeretaapian tersebut. Hal ini menjelaskan mengapa dampak kerusakan pada bagian belakang KRL begitu fatal saat dihantam oleh lokomotif kereta jarak jauh.
"Kalau terkait KA Argo Bromo nembus ke gerbong KRL karena Argo Bromo-nya kan lokomotif. Lokomotif itu beratnya sekitar 120 sampai 140 ton, sementara yang ditabrak gerbong kereta kosong rangka doang, paling beratnya sekitar 40-60 ton makanya sampai hancur," papar Sony Sulaksono, Pengamat transportasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB).
Merespons kejadian ini, PT KAI telah membuka posko darurat selama 14 hari ke depan di Stasiun Gambir dan Stasiun Bekasi Timur untuk melayani para korban. Seluruh korban luka saat ini telah dirawat di berbagai rumah sakit, termasuk RSUD Bekasi, RS Bella, RS Primaya, hingga RS Mitra Keluarga.
Pihak manajemen KAI menegaskan akan menanggung seluruh biaya pengobatan serta pemakaman bagi para korban melalui mekanisme asuransi perusahaan. Barang-barang milik pelanggan yang ditemukan di lokasi kejadian juga telah diamankan di layanan lost and found dengan pengawasan ketat dari pihak kepolisian.
Proses identifikasi dan pendataan terus dilakukan secara berkala seiring perkembangan di lapangan. Masyarakat yang memerlukan informasi lebih lanjut terkait anggota keluarga maupun barang bawaan dapat menghubungi pusat panggilan resmi KAI di nomor 121 atau layanan WhatsApp 0811-2223-3121.