Insiden tabrakan hebat melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line terjadi di kawasan Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026, pukul 20.53 WIB. Tragedi ini dipicu oleh mobil mogok di perlintasan sebidang yang menyebabkan hambatan perjalanan hingga tabrakan antar-kereta.
Jumlah korban meninggal dunia dalam kecelakaan maut tersebut dilaporkan telah mencapai 14 orang hingga Selasa sore, 28 April 2026. Berdasarkan data yang dilansir dari Suara, sebanyak 84 penumpang lainnya mengalami luka-luka dengan kondisi mulai dari luka ringan hingga kritis.
Kronologi peristiwa bermula saat sebuah taksi listrik berwarna hijau dengan nomor polisi B 3864 SBX mengalami kendala teknis dan mogok di perlintasan sebidang. KRL relasi Bekasi-Cikarang kemudian menabrak taksi tersebut, yang berujung pada penghentian rangkaian KRL lain berkode PLB 5568 di peron stasiun.
KA Argo Bromo Anggrek yang melaju kencang dari arah belakang tidak sempat melakukan pengereman maksimal sehingga menghantam bagian belakang KRL yang sedang berhenti. Saat ini, pengemudi taksi listrik yang menjadi pemicu awal kecelakaan telah diamankan oleh pihak kepolisian untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Kerusakan struktural paling parah dialami oleh dua gerbong belakang KRL yang merupakan area khusus penumpang perempuan. Penempatan gerbong tersebut mengakibatkan mayoritas korban terdampak adalah wanita yang terjepit di antara reruntuhan material logam gerbong yang hancur total.
Kepala Basarnas, Marsekal Madya Mohammad Syafii memberikan keterangan terkait kondisi di lapangan dan kerusakan unit kereta yang terlibat tabrakan tersebut.
"gerbong paling belakang dan gerbong kedua dari belakang mengalami kerusakan struktur total (collapse)." kata Mohammad Syafii, Kepala Basarnas.
Tim evakuasi memberikan bantuan medis darurat berupa pemberian obat pereda nyeri kepada para korban yang masih terhimpit puing. Langkah ini dilakukan untuk meminimalisir risiko syok pada korban saat proses pelepasan logam bangunan kereta berlangsung di lokasi kejadian.