Kereta Api Argo Bromo Anggrek menabrak bagian belakang KRL TM 5568A yang sedang berhenti di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026. Peristiwa fatal ini mengakibatkan 16 orang meninggal dunia dan puluhan penumpang lainnya mengalami luka-luka akibat benturan keras di koridor perkeretaapian tersibuk tersebut.
Insiden ini bermula saat sebuah taksi listrik mengalami kegagalan sistem baterai dan mogok di Perlintasan JPL 85 Ampera pukul 20.20 WIB, sebagaimana dilansir dari Megapolitan. KRL relasi JakartaÔÇôCikarang kemudian menabrak kendaraan tersebut sepuluh menit kemudian, yang memicu rangkaian gangguan operasional pada jalur tersebut.
Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) menyoroti adanya selisih waktu sekitar 35 menit antara tabrakan pertama dengan taksi dan tabrakan kedua yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek. Durasi tersebut dinilai sangat mencukupi bagi pusat kendali operasi untuk melakukan prosedur penghentian darurat guna mencegah kecelakaan susulan.
Proses evakuasi pada Selasa, 28 April 2026, memfokuskan pada pemisahan lokomotif KA Argo Bromo Anggrek yang menancap di gerbong belakang KRL. Tim gabungan dari Basarnas dan teknisi operator bekerja bertahap karena kondisi gerbong khusus wanita tersebut mengalami kerusakan ekstrem dengan banyak penumpang yang sempat terjepit.
Sistem persinyalan elektronik di lintas tersebut kini menjadi fokus penyelidikan karena adanya potensi kesalahan pembacaan petak jalan yang dianggap aman oleh sistem. Investigasi mendalam diarahkan pada data logger untuk memahami mengapa KA Argo Bromo Anggrek diizinkan masuk ke petak yang masih ditempati rangkaian KRL.
Pemerintah memberikan perhatian serius terhadap tragedi ini melalui koordinasi antarinstansi untuk penanganan medis korban. Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi telah menyampaikan duka cita serta menjamin investigasi objektif oleh KNKT guna mengevaluasi standar keselamatan transportasi nasional.