KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur

KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur
Foto: Ilustrasi KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur.

Empat penumpang KRL jurusan Cikarang meninggal dunia setelah kereta yang mereka tumpangi ditabrak KA Argo Bromo Anggrek di emplasemen Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) sekitar pukul 20.52 WIB. Kecelakaan maut ini juga menyebabkan 38 orang lainnya mengalami luka-luka dan harus menjalani perawatan medis di rumah sakit.

Peristiwa tragis ini melibatkan KRL bernomor PLB 5568A dan KA Argo Bromo Anggrek relasi GambirÔÇôSurabaya Pasar Turi di KM 28+920, sebagaimana dilansir dari Megapolitan. Sebanyak 240 penumpang kereta jarak jauh tersebut dilaporkan selamat dan telah dievakuasi dari lokasi kejadian oleh petugas terkait.

Maksus, seorang saksi mata yang merupakan penumpang gerbong enam KRL tersebut, menceritakan detik-detik sebelum tabrakan terjadi saat kereta sempat berhenti sesaat setelah berangkat. Ia memutuskan turun ke peron karena merasa penasaran dengan informasi adanya insiden lain di depan rangkaian keretanya.

"Itu ada mobil yang katanya keserempet di depan. Keserempet apa berhenti lah gitu kan? Saat itu saya juga enggak tahu pasti," ujar Maksus.

Situasi di peron saat itu dipenuhi penumpang lain yang juga ikut turun untuk memantau keadaan di bagian depan rangkaian. Maksus sempat berjalan beberapa saat sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali menuju gerbong tempatnya semula berada.

"Saya kepo ikut turun tuh, yang lain-lain pada turun, nah saya turun juga ke peron mau lihat ke depan. Tapi kok tidak keliatan juga mobilnya yang keserempet KRL," kata Maksus.

Ia pun segera berbalik arah untuk memasuki kembali gerbong enam yang ditumpanginya tersebut. Namun, saat baru melangkah, rangkaian KRL tiba-tiba terdorong dengan kekuatan besar dari arah belakang.

"Nah terus saya balik lagi dong, cuma sebentar doang balik lagi," tutur Maksus.

Getaran hebat dan suara benturan keras langsung menyusul seketika saat rangkaian KRL bergerak tidak terkendali. Kondisi di sekitar lokasi mendadak gelap total setelah aliran listrik pada rangkaian kereta padam akibat hantaman tersebut.

"Baru saya melangkah berapa langkah, kereta jalan sendiri tapi kenceng. Tiba-tiba duss !! Lampu KRL mati," tutur Maksus.

Menurut kesaksiannya, lokomotif kereta jarak jauh terlihat mendorong rangkaian KRL hingga melewati area peron stasiun. Ia menyaksikan langsung bagaimana posisi gerbong-gerbong KRL tersebut saling bertumpuk akibat dorongan yang sangat kuat.

"Lalu terlihat ada dua gerbong berjalan cepat melewati peron. Baru sadar ternyata ada KA jarak jauh nyundul (KRL dari belakang)," lanjut Maksus.

Kerusakan paling parah dilaporkan terjadi pada bagian belakang rangkaian KRL yang bersentuhan langsung dengan lokomotif penabrak. Maksus melihat posisi lokomotif bahkan menembus sebagian struktur badan gerbong kereta komuter tersebut.

"Gerbong yang terkena (tabrakan) paling parah itu gerbong 12, atau gerbong khusus perempuan dan gerbong 11," kata Maksus.

Kepanikan luar biasa melanda para penumpang yang masih berada di dalam maupun di area peron saat melihat kondisi korban yang terdampak. Beberapa penumpang dilaporkan terlempar dari posisi duduk mereka akibat guncangan yang terjadi secara tiba-tiba.

"Ada yang tadi (penumpang) nyangkut di atas gitu kan, ada yang ke bawah juga. Saya sudah nggak tega lihatnya," jelas Maksus.

Saksi mengaku sangat terguncang dan tidak menyangka keputusannya untuk turun sejenak dari kereta telah menyelamatkan nyawanya dari cedera serius. Ia membayangkan risiko yang mungkin terjadi jika dirinya tetap berada di dalam gerbong saat tabrakan berlangsung.

"Ya Allah untung aja tadi keluar. Habis itu saya mau ngambil HP aja sampai gemeteran," tutur Maksus.

Maksus menyadari bahwa meskipun posisi gerbongnya berada di tengah rangkaian, dampak benturan tetap sangat membahayakan keselamatan seluruh penumpang di dalam. Kondisi kereta yang saat itu relatif lengang membuat dampak fatal terpusat pada gerbong paling belakang.

"Meski di peron 6, bisa saja kalau saya tetap di dalam ikut tergencet, terbentur atau luka," ucap Maksus.

Banyak penumpang di gerbong akhir merupakan mereka yang hendak menuju tujuan akhir seperti Tambun, Cibitung, hingga Cikarang. Tabrakan tersebut membuat struktur gerbong terangkat akibat dorongan dari arah bawah oleh lokomotif KA Argo Bromo Anggrek.

"Tapi itu kan posisinya tersundul. Mereka kondisinya naik ke atas karena tersundul lokomotif," tutur Maksus.

Usai kejadian, warga dan penumpang yang selamat segera melakukan upaya evakuasi mandiri terhadap para korban yang terjepit di antara puing gerbong. Beberapa korban ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri dengan luka yang cukup berat sebelum petugas medis tiba di lokasi.

"Habis itu saya ikut membantu menolong penumpang yang menjadi korban terdampak tabrakan. Mereka ada yang terluka parah, ada yang sudah pingsan," katanya.

Artikel terkait

Rekomendasi