Di sudut Jagakarsa, Jakarta Selatan, sebuah bentang air yang tenang berdiri bukan sekadar sebagai penampung limpasan hujan. Waduk Brigif, yang kini menjadi destinasi favorit warga sekitar, menyimpan rahasia geologis yang mendalam di balik permukaannya yang asri. Siapa sangka bahwa lokasi yang kini ramai dikunjungi tersebut merupakan bagian dari sebuah sungai purba yang melintasi kawasan tersebut ribuan tahun silam.
Kawasan ini telah berkembang jauh melampaui fungsi utamanya sebagai infrastruktur penanggulangan banjir. Kini, Waduk Brigif bertransformasi menjadi pusat pendidikan yang dinamis sekaligus destinasi olahraga bagi warga Jakarta yang haus akan ruang terbuka hijau. Kehadirannya memberikan kontras yang menyegarkan di tengah kepadatan beton ibu kota.
Ahmad Maulana, atau yang akrab disapa Bang Apur, adalah sosok yang sehari-harinya mengamati denyut nadi waduk ini. Pria paruh baya berusia 55 tahun tersebut merupakan warga asli sekaligus aktivis lingkungan yang mendedikasikan waktunya tanpa pamrih untuk mengawasi kelestarian ekosistem waduk, sebuah pengabdian yang diakui oleh masyarakat sekitar.
Berbeda dengan tipikal waduk di Jakarta yang identik dengan dinding beton kaku dan tegak lurus, Waduk Brigif menonjol dengan desain ramah lingkungan. Bang Apur menekankan bahwa kawasan ini memiliki nilai ekologis yang sangat besar, yang berakar kuat dari sejarah alam pembentukannya sebagai lembah kuno.
"Ini sebetulnya Sungai Purba awalnya. Lembah purba. Yang mentok sana itu Sungai Krukut," ujar Apur, Aktivis Lingkungan.
Pendekatan naturalisasi tanpa beton yang diterapkan di sini memungkinkan air meresap secara alami ke dalam tanah, menjaga siklus hidrologi tetap seimbang. Tak hanya unggul secara teknis pengairan, waduk ini juga telah menjelma menjadi rumah bagi berbagai habitat flora dan fauna yang kini kian jarang ditemukan di tengah hiruk-pikuk kota.
"Konsepnya apik buat gue. Tidak dengan beton, jadi memang meresap. Ini satu lahan untuk edukasi yang luar biasa," kata Apur, Aktivis Lingkungan.
Sejak diresmikan oleh Gubernur Anies Rasyid Baswedan pada 4 Oktober 2022, Waduk Brigif telah mengukuhkan posisinya sebagai destinasi wisata olahraga unggulan. Jalur pejalan kaki yang mengelilingi perairan tenang dengan pemandangan hamparan hijau menjadi magnet bagi para pecinta jogging dan jalan sehat.
Antusiasme masyarakat terlihat sangat tinggi, terutama pada hari-hari libur. Bang Apur mencatat adanya lonjakan pengunjung yang signifikan ketika cuaca sedang bersahabat, menunjukkan betapa berartinya ruang publik berkualitas bagi warga.
"Cuaca baik, pagi bisa ribuan (orang). Sore juga begitu," kata Apur, Aktivis Lingkungan.
Daya tarik waduk seluas 10 hektare ini ternyata melampaui batas wilayah Jagakarsa. Banyak pengunjung datang dari kejauhan untuk sekadar duduk santai atau menyalurkan hobi memancing. Sebuah jembatan ikonik yang membentang di atas waduk juga menjadi spot favorit warga untuk mengabadikan momen atau sekadar menikmati semilir angin.
Tantangan Kebersihan dan Panggilan Hati
Namun, di balik pesonanya yang memikat, Waduk Brigif tidak lepas dari tantangan klasik perkotaan: sampah. Bang Apur terus menyuarakan pentingnya kesadaran kolektif untuk menjaga kebersihan kawasan agar tidak menambah beban krisis sampah di Jakarta yang sudah kritis.
Ia menaruh harapan besar agar setiap orang yang datang tidak hanya menempatkan diri sebagai pengguna fasilitas. Baginya, hubungan antara manusia dan alam di Waduk Brigif harus berlandaskan pada rasa kepemilikan dan cinta yang tulus.
"Harus ada titik sadar. Mereka bukan hanya sekadar jadi penikmat, tapi juga jadi pencinta. Kalau kita cinta, kita pasti jaga," ujar Apur, Aktivis Lingkungan.
Waduk Brigif menjadi bukti nyata bahwa ruang publik yang dikelola dengan konsep ekologis dapat memberikan dampak ganda. Di satu sisi, ia menjadi pengendali banjir vital bagi daerah sekitarnya seperti Ciganjur, dan di sisi lain, ia hadir sebagai ruang sosial yang menyehatkan jiwa dan raga masyarakat.
Bagi siapa pun yang mencari ketenangan, pasokan oksigen yang melimpah, atau sekadar ingin berkeringat di akhir pekan, waduk di Jagakarsa ini adalah jawaban yang tepat. Kawasan ini terbuka setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 17.00, meski suasananya tetap hidup dengan kehadiran pengunjung hingga malam hari.